Header Ads

Inilah 11 Orang yang Diduga Teroris di Balige, Ternyata Merekah ......


LINTAS PUBLIK - BALIGE, Kehebohan yang terjadi di Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa dan di dunia maya, khususnya jejaring sosial Facebook, besar kemungkinan karena salah kaprah. Keberadaan 11 orang yang diamankan dari rumah kontrakan belakang Gereja Khatolik, Senin (5/12/2016) malam, tidak dapat dibuktikan sebagai teroris.

Hanya saja memang, kronologis kejadiannya serta dugaan bukti yang ada, jika dicermati sepintas orang akan menduga seolah-olah ini merupakan kelompok teroris. Mulai dari kedatangan petugas yang mengamankan, ke-11 orang ini pun tak dikenal warga setempat, barang-barang bawaan kelompok ini mirip alat-alat berbahaya, serta sempatnya mereka raib dari amatan petugas sehingga dianggap kabur.

BACA JUGA Heboh, 11 Terduga Teroris Ditangkap di Balige, 1 Melarikan Diri

Kesebelas orang itu saat diamankan. Ternyata mereka tak terbukti sebagai teroris
Namun misterinya baru terungkap setelah aparat keamanan memberi penjelasan. Ditambah lagi keterangan dari Desven Riady, Pimpinan UD Tabek Jaya yang beralamat di Desa Suka Negeri Jaya, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung yang dihubungi via seluler, Selasa (6/12/2016) pagi seperti dilansir dari metro-online.co .

Keterangan kedua sumber itu menyebutkan, 11 orang yang diamankan itu di antaranya:

1. Syamsiri (42), warga Banding Agung RT 01/03, talang Padang Tanggamus Lampung.

2. Junaidi (48)alamat Lampung.

3. Zarruddin (49) alamat Lampung.

4. Erwinsyah (21) Warga Jalan M Kholl Suka Negeri Jaya, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

5. Fikri Irawan (17) alamat Lampung.

6. Suprizal (22) warga Desa Sukabumi, Kecamatan Talang Padang, Lampung.

7. Daniel Saputra (30) warga Desa Sukadamai, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

8. Depi Irawan (29) warga Desa Kejayaan, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

9. Arip Riansyah (24) warga desa Pekon Sukabumi, Kecamatan Talang Padang, Lampung.

10. Azmi Ardiansyah (23) warga Dusun Padalarang, Kecamatan Talang Padang, Lampung.

11. Wahyudi (28) warga Kampung Gebang, Kelurahan Sanggiang Jaya, Kecamatan Priuk, Tangerang, Banten.

Kesebelas orang yang berasal dari Provinsi Lampung ini ditemukan mengontrak di belakang Gereja Khatolik, Kelurahan Pardede Onan, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa, Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di rumah warga bernama M Siahaan, warga Jalan Tandang Buhit, Kelurahan Pardede Onan.

Berdasarkan pengakuan mereka saat diinterogasi petugas, kesebelas orang itu merupakan karyawan UD Tabet Jaya yang bergerak di bidang alat -alat rumah, pengaman kompor dn penghemat kompor yang berkantor di Jalan Raya Raden Intan Desa Negeri Jaya Kec. Talang Padang Kab. Tangga Mus Lampung.

Kesebelas warga tersebut menggunakan 1 unit mobil jenis Avansa kuning metalik dan 6 sepeda motor yang kesemuanya berplat BE. Kendaraan tersebut digunakan untuk bekerja menjual dan mempromosikan alat pengaman kompor gas ke desa desa.

“Kami di rumah kontrakan M Siahaan di Kelurahan Pardede Onan itu, baru 5 hari ini. Kami mengontrak di situ untuk selama 1 bulan dengan biaya Rp1 juta per bulan. Keberadaan kita pun diketahui oleh Kepling setempat yang bermarga Siahaan,” begitu keterangan Syahmiri, selaku kordinator kelompok tersebut kepada petugas.

Untuk melancarkan kegiatannya, mereka membuat peta lokasi agar tidak terjadi kesalahan di lapangan. “Kalau sebelumnya diberitakan peta itu untuk memetakan gereja untuk target bom, jadi ini lah keterangan sebenarnya. Peta itu supaya mereka tidak keliru dan tak salah di lapangan,” ujar sumber.

Masih keterangan Syahmiri kepada petugas, setiap keberadaan mereka di suatu desa, selalu diketahui oleh kepala desa ataupun kepala dusun setempat. “Sebelumnya pada tanggal 23 Agustus 2016 kita berada di wilayah Kisaran. Di sana kita berdagang 1 bulan. Kemudian pada bulan September 2016 kita ke Tomok di Kabupaten Samosir. Di situ kita 1 bulan juga. Kemudian pada bulan Oktober 2016 kita berada di Parapat, Kabupaten Simalungun, juga selama 1 bulan,” kata Syahmiri .

Selanjutnya, pada bulan November 2016 mereka berada di Panggururan, Kabupaten Samosir. Di sini, mereka berdagang selama 15 hari lalu kemudian berada di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbahas dan tinggal selama 8 hari yang dilanjutkan ke Siborong-borong, Kabupaten Taput dan tinggal selama 3 hari saja.

“Jadi waktu di Siborong-borong, kabarnya ada warga yang melapor karena karyawan kita ini tidak dikenal masyarakat setempat. Lalu polisi datang melakukan penyelidikan. Karyawan kita dimintai keterangan. Dan memang kita bisa buktikan bahwa mereka ini murni berdagang di bawah naungan UD Tabek Jaya,” kata Desven Riady.

Ditambahkan Desven, karena kondisi tidak kondusif, oleh petugas yang terjun ke lokasi di Siborong-borong menyarankan agar kesebelas orang itu berpindah tempat saja. “Jadi anggota kita pindah sekitar 30 KM dari sana. Dan tinggal lah mereka di Kelurahan Pardede Onan Balige itu,” jelasnya.

Tapi ternyata, justru ini yang membuat kehebohan terjadi. Sebab, petugas yang tadi menanyai mereka, kembali mendatangi rumah kontrakan yang di Siborong-borong. Si petugas terkejut lantaran tak mendapati lagi mereka, hingga kembali dilakukan pencarian. “Padahal karyawan kita pindah ke Balige karena tadinya atas saran petugas loh, Pak. Jadi mereka bukan lari loh,” kata Desven lagi seraya menyebutkan, akhirnya terjadilah kehebohan di Balige.

Kehebohan semakin memuncak lantaran saat ke 11 warga Lampung itu diamankan, banyak warga yang berdatangan ke lokasi tempat tinggal mereka. Di sini lah mereka dicurigai sebagai pelaku tindak pidana.

Keberadaan ke 11 warga Lampung tsb berada di wilayah Kab. Tobasa dan mengontrak rumah di belakang gereja khatolik Balige adlah utk berjualan dn mempromosikan alat pengaman kompor gas kepada masyarakat Desa Kab. Tobasa.

Masih disebutkan Desven Riady, akibat kekisruhan yang terjadi di Balige, dia langsung berkordinasi dengan Kapolres Tanggamus. “Kapolres Tanggamus sudah berkodinasi dengan Kapolres Taput dan Kapolres Tobasa. Bahwa benar karyawan kita memang hanya berdagang, bukan teroris seperti diisukan,” kata Desven lagi.

Terpisah, Kapolres Tobasa Akbp Jiddin Siagian yang dihubungi memastikan, kesebelas orang itu bukanlah teroris. “Tidak. Mereka bukan teroris. Saya sudah kordinasi dengan UD Tabek Jaya. Saya sudah kordinasi juga dengan Kapolres Tanggamus, AKBP Simamora, jadi dipastikan mereka itu benar-benar karyawan. Masyarakat saja yang terlampau curiga. Ya wajar lah, mungkin karena situasi sekarang ini kan? Jadi tidak benar itu (teroris-red) ya,” akhirnya.


Editor    : tagor

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.