Header Ads

Kenaikan Harga Bawang Merah Memicu Inflasi di Kota Pematangsiantar


LINTAS PUBLIK-SIANTAR, Kota Pematangsiantar pada bulan Maret 2017 mengalami inflasi sebesar 0,17% (mtm) atau secara tahunan sebesar 4,72% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun kalender Maret 2017atau total inflasi dari bulan Januari sd Maret 2017 menjadi 0,73% (ytd).

ilusteasi penjualan bawang.
Kondisi inflasi bulanan Kota Pematangsiantar berbeda dengan tiga kota lainnya di Sumatera Utara maupun nasional. IHK (Indeks Harga Konsumen) kota Sibolga terpantau deflasi sebesar 0,70% (mtm), Medan 0,20% (mtm) dan Padang Sidempuan 0,43% (mtm).

Pencapaian di seluruh kota tersebut menyebabkan Sumatera Utara mencatat deflasi sebesar 0,19% (mtm) atau secara tahunan inflasi 3,91% (yoy). IHK nasional juga mengalami deflasi pada besaran 0,02% (mtm) atau secara tahunan inflasi 3,61% (yoy).

"Inflasi kota Pematangsiantar periode Maret 2017 terutama disebabkan peningkatan harga pada komoditas bawang merah yang meningkat 18,43% (mtm) dan memberi andil terhadap inflasi sebesar 0,159% (mtm).
Peningkatan harga bawang merah disebabkan kurangnya pasokan dari sentra produksi yang mengalami hambatan produksi akibat curah hujan yang tinggi. Komoditas lainnya yang mendorong inflasi pada periode ini di antaranya udang basah udang basah (9,95%, mtm), dencis (6,01%, mtm), tarif listrik (1,79%, mtm) dan mie (1,76%, mtm),"ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar,Elly Tjan melalui siaran elektronik yang diterima kru media ini, Rabu (5/4/2017).

Di sisi lain, laju inflasi bulan Maret ditahan dengan penurunan harga tomat buah sebesar 18,68% (mtm) memberi andil IHK sebesar -0,132% (mtm). Koreksi harga cabai merah juga masih berlanjut dan mencatat deflasi 9,89% (mtm). Komoditas lainnya yang menyumbang deflasi di antaranya tarif pulsa ponsel, cabai rawit, tongkol/ambuambu dan emas perhiasan.

Secara disagregasinya, inflasi periode Maret terutama disumbang oleh kelompok bahan pangan bergejolak (volatile foods) yang mengalami inflasi sebesar 0,08% (mtm) dengan andil 0,098% (mtm). Kelompok barang yang diatur pemerintah (administered prices) dan kelompok inti juga mencatat inflasi masing-masing sebesar 0,34% (mtm) dan 0,36% (mtm).

Untuk periode triwulan II-2017, risiko yang perlu diwaspai di antaranya berasal dari penyesuaian tarif listrik khususnya, yakni dampak pencabutan subsidi untuk daya 900 VA, peningkatan tarif cukai rokok, penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Peningkatan permintaan masyarakat pada periode Ramadhan dan jelang Idul Fitri juga akan memberi tekanan pada inflasi periode Mei s.d Juni ke depan.

Bank Indonesia bersama TPID Kota Pematangsiantar akan terus melakukan upaya stabilisasi harga dan koordinasi antardaerah dalam rangka pencapaian inflasi 2017. TPID kota Pematangsiantar telah melakukan penguatan koordinasi bersama 7 (tujuh) kabupaten/kota lainnya pada 21 Maret 2017.

Pertukaran informasi surplus dan defisit produksi pangan, perbaikan saluran irigasi dan perbaikan jalan merupakan beberapa kesepakatan yang menjadi prioritas usulan dalam rangka menjamin ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Melalui Program 4K (Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi untuk Menghindari Ekspektasi yang Salah), sasaran inflasi nasional, sebesar 4±1% (yoy) optimis dapat tercapai pada periode 2016.


Penulis    : franki/rel
Editor      : tagor

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.