Header Ads

Kegamangan Menulis dan Beberapa Solusinya


LINTAS PUBLIK, Sebenarnya artikel ini saya tulis untuk mengatasi keraguan saya sendiri saat mau menulis sesuatu. Bermaksud ingin berbagi pengalaman tentang proses menulis, saya sedang mengkompensasikan diri menulis hal yang topiknya tidak dalam daftar prioritas rencana.

Ibaratnya saya ingin ke Selatan, mendadak saya tidak yakin apa jalan menuju ke Selatan itu lancar dan mulus. Dari pada saya malah tertidur karena kelamaan melamunkan apa yang membuat saya gamang, lebih baik saya tetap melangkah, awalnya seakan menuju ke Timur, padahal saya tahu bahwa saya tetap akan ke Selatan, hanya dari titik berbeda.

Sebentar lagi November tiba. Pernah mendengar Nanowrimo (National Novel Writing Month)? Ini adalah bulan menulis sebanyak minimal 50.000 kata. Saat sudah menyelesaikan 50.000 kata -- boleh lebih, peserta Nanowrimo akan mengisi data di platform Nanowrimo untuk mendapatkan validasi, yang kemudian akan diapresiasi dan hal ini ditandai dengan sebuah sertifikat pencapaian menulis 50.000 kata oleh pihak Nanowrimo. Sertifikatnya sih diberikan secara virtual, namun itu pun tidak setiap peserta berhasil mendapatkannya.

Selda Penulis Cilik Mulai Menulis | Dokumentasi Pribadi
Nanowrimo bukan hal yang ingin saya bahas di sini. Saya hanya teringat celetukan beberapa teman yang ikut, salah satunya mengatakan, "Malas baca tulisan orang. Rasanya aku terintimidasi, dan itu membuatku semakin galau dan tidak pede menulis."

Ternyata curcolan teman ini kadang melanda diri sendiri juga. Karenanya bila ada lomba menulis, saya cenderung tidak membaca tulisan dengan topik sejenis dari peserta lain. Ini satu hal. Hal lain adalah tanpa hambatan itu, kita bisa jadi tetap mengalami yang namanya "tidak pede, ragu-ragu, dan tidak yakin apa ide yang akan atau sedang kita tulis itu cukup bagus dibagikan kepada pembaca". Itu pun kalau ada pembaca. Minimal bila diri sendiri bahkan tidak ingin membaca tulisan sendiri, nah, pasti ada yang nggak beres.

Nah, kalau keraguan itu datangnya hanya kadang-kadang masih wajar. Yang bermasalah itu jika setiap kali mau menulis, sontak kepercayaan diri merosot. Lha kalau begitu caranya kapan kita mulai menulis? Kapan kita menyelesaikan tulisan kita, terlebih dalam konteks ini adalah tulisan yang diunggah untuk para pembaca. Lha katanya ingin jadi penulis, ingin punya blog yang banyak pengunjungnya, ingin ini dan itu terkait tuntutan dan kewajiban menulis. Ini tidak bisa dibiarkan, namun dicari solusinya. Betul? Ini (lagi-lagi) saya mengingatkan diri sendiri.

Cara Mengatasi Keraguan Menulis

Banyak mentor menulis menganjurkan agar kita mulai menulis dengan membuat draft pertama. Saya melakukannya juga, dan ini seringnya membantu mengatasi tantangan dari dalam diri, yang suka menggoda kita dengan banyak dalih yang menciutkan semangat menulis.

Menulis draft pertama dengan cepat, itu yang saya lakukan. Ini terbukti efektif menutup kemungkinan otak menyensor, meragukan, dan mempertanyakan setiap kata saat mengalir di benak dan terketik di komputer (atau tertuliskan di kertas).

Ketika saya menulis dengan cara demikian, saya berpura-pura sedang berbicara dengan seorang teman. Saya ingin teman saya mendengar tentang hal menarik atau hal yang ingin saya bagikan kepadanya. Dengan cara itu saya tidak perlu membuatnya terkesan, atau sebaliknya membingungkannya.

Cara lain adalah dengan membetuk kebiasaan (bisa dibilang sebagai ritual) menulis. Apa pun situasinya, pokoknya ada kegiatan menulis yang dilakukan dengan teratur. Teratur tentu relatif, ada yang teratur menulis setiap pagi, setiap malam, atau sekali sampai tiga kali seminggu, dan sebagainya.

Manfaat kebiasaan menulis ini antara lain, mengurangi stres. Kok bisa? Dengan membiasakan diri menulis teratur, maka diharapkan hal ini "menyembuhkan" kebiasaan lain yang tampaknya menjadi penyakit umum, yaitu suka menunda pekerjaan. Kalau menulis sudah menjadi kebiasaan, maka menulis akan semakin mudah dan dengan begitu tidak ada beban mental karena menunda jadwal tulisan. Nah ini perlu banget buat saya.

Memang beberapa teman suka "membela diri" dengan mengatakan bahwa mereka akan lebih lancar menulis bila dalam kondisi kepepet, dalam hal ini yang dimaksud adalah waktunya yang semakin mendekati tenggat. Istilah kerennya, "The Power of Kepepet", kata mereka.

Pengalaman pribadi membuktikan bahwa memang dalam kondisi mengejar tenggat, kita "dibuat" kalap menulis. Namun saya percaya bahwa hasilnya kurang optimal, itu pengalaman pribadi. Karena mengejar tenggat, maka kita tidak punya waktu yang cukup untuk melakukan revisi, mengisi yang kurang, atau menghapus yang tidak perlu. Dengan kata lain, swa sunting kurang dimungkinkan jika tenggat di depan mata.

Sebagian orang mengatasi keraguan dengan berdiskusi bersama sesama penulis, atau konsultasi dengan bahan bacaan, bahkan dengan membaca karya sejenis yang sudah lebih dulu ada. Sah-sah saja bila itu menjadi semacam pemicu ide dan cara meyakinkan diri siap menulis.

Akhir kata, kalau saya ingat-ingat itu menulis ya langsung menulis. Alasan harus baca referensi, baik. Namun jangan terus mencari alasan lainnya. Kapan memulainya? Kalau tidak dimulai, kapan jadinya? Ah, saya ini mempertanyakan diri sendiri yang sedang kumat meragu!


LIHA JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Salam @IndriaSalim 
Sumber : kompasiana

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.