Header Ads

Citilink Turunkan Penumpang Merokok Saat Hendak Masuk Pesawat


LINTAS PUBLIK - JAKARTA. Petugas maskapai penerbangan Citilink Indonesia kemarin terpaksa menurunkan salah seorang penumpangnya karena merokok saat pesawat sedang mengisi bahan bakar.

Vice President Corporate Communication Citilink Indonesia Benny Butarbutar mengatakan peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, (25 /2/2018). Penurunan paksa penumpang itu dilakukan sesaat sebelum penerbangan terakhir Citilink Indonesia dengan kode penerbangan QG156 rute Halim Perdanakusuma, Jakarta-Denpasar dengan jadwal penerbangan pukul 21.35 WIB.

Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur ke pesawat Citilink di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, 5 Januari 2016. Kebutuhan avtur setiap tahun untuk memenuhi operasional maskapai penerbangan di Indonesia mencapai 5 juta kiloliter (KL) atau 5 miliar liter. 
"Saat keluar dari boarding gate menuju pesawat, penumpang tersebut terlihat merokok, bahkan diteruskan saat menaiki tangga pesawat," kata Benny dalam keterangan tertulis, Senin, 26 Februari 2018. Pada saat yang bersamaan, pesawat sedang mengisi bahan bakar avtur (refueling) dan posisinya dekat dengan engine.

Menurut Benny, kondisi tersebut sangat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan. Mendengar kejadian tersebut, petugas keamanan bandara (aviation security/avsec) yang juga melibatkan petugas POM bandara segera mengambil tindakan tegas.


Lintas Publik membagikan tautan
Diterbitkan oleh Tagor Leo1 jam
LINTAS PUBLIK-SIANTAR, Kelompok Cipayung Plus Siantar-Simalungun menggelar unjuk rasa menolak revisi UU MD3 dan RKUHP. Ratusan…
LINTASPUBLIK.COM

Benny menjelaskan, petugas keamanan yang didampingi pihak Citilink lalu mendatangi penumpang tersebut di bangkunya dan memintanya turun. Suasana sempat alot karena penumpang tersebut menolak turun dari pesawat dan terjadi adu mulut dengan petugas.

Lebih jauh, Benny menyebutkan Citilink Indonesia tak bisa menoleransi sikap penumpang tersebut. "Perilakunya jelas-jelas dapat mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan," ujarnya. Karena itu, pihaknya tetap memaksa menurunkan penumpang tersebut. "Dalam industri airlines, kami harus bisa memastikan tidak ada satu pun aturan keselamatan yang dilanggar, sehingga operasional penerbangan dapat berjalan dengan aman, lancar, dan nyaman."


Sumber   : tempo 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.