Header Ads

Peneliti Jepang Ciptakan Pisang yang Bisa Dimakan Kulitnya


LINTAS PUBLIK - TOKYO, Sebuah perusahaan di Jepang telah berhasil menciptakan pisang yang tidak perlu Anda kupas sebelum dimakan.

Pisang mongee (diucapkan 'mon-gay' dan berarti 'menakjubkan') memiliki kulit yang bisa dimakan yang diklaim rasanya seperti sayuran dan memiliki tekstur seperti selada.

Pisang ini telah menjadi usaha penuh cinta bagi Setsuzo Tanaka berusia 68 tahun dari Prefektur Okayama yang telah menghabiskan waktunya selama 40 tahun terakhir untuk menyempurnakan teknik menumbuhkan pisang Mongee ini.

Pisang Mongee berasal dari varietas Gros Michel, yang merupakan varietas utama yang
tumbuh secara global sampai pertengahan tahun 1950an. 
Bibit-bibit pisang dibekukan, kemudian dicairkan dan ditanam kembali, di mana perusahaannya, D & T Farm, menyebut metode ini sebagai "freeze-thaw awakening".

"Sel pertumbuhan pisang secara perlahan didinginkan hingga -60 derajat Celcius dan dicairkan untuk membangkitkan vitalitas tanaman asli," papar juru bicara perusahaan Tetsuya Tanaka.

Menurut D & T Farm, proses tersebut membuat tanaman tumbuh dengan cepat, memotong proses budidaya tanaman pisang yang biasanya memerlukan waktu dua tahun menjadi hanya enam bulan saja.

Pisang matang dengan cepat, menyebabkan kulitnya tipis, lentur dan dapat dimakan.

Saat ini, 99 persen pisang di Jepang diimpor.
Akar di masa lalu

IlmuwanQueensland berusaha untuk mengembangkan varietas baru untuk menjaga buah Australia yang paling populer ini tetap digemari selama bertahun-tahun yang akan datang.

Ini adalah varietas pisang utama dalam yang beredar secara global sejak awal 1900-an sampai tahun 1950-an, ketika perkebunan di Amerika Tengah musnah oleh penyakit layu fusarium yang menjadi lebih dikenal sebagai penyakit Panama.

Jenis yang lebih baru dari penyakit yang bersumber dari jamur yang ditularkan melalui tanah, Panama TR4, sekarang mempengaruhi tanaman pisang Cavendish Australia.

Keinginan Setsuzo Tanaka untuk menumbuhkan pisang Gros Michel tropis di iklim dingin Jepang didorong oleh kenangannya sendiri saat kecil memakan pisang tersebut ketika pisang di saat buah yang satu ini masih digolongkan sebagai makanan mewah.

"Harapan sederhana untuk memakan banyak pisang menjadi tantangan untuk penelitian ini," kata Tanaka.

"Ia mengembangkan pisang Mongee sebagai hobi.

"Alasan mengapa kulit pisang bisa dimakan adalah varietas Gros Michel yang relatif lebih tipis kulitnya, dibandingkan dengan pisang yang diimpor ke Jepang."



Aman dan manis

Perusahaan ini menentang modifikasi genetik dan tanaman pisang Mongee ini tidak diobati dengan bahan kimia apapun, yang memungkinkan kulitnya dimakan dengan aman.

"Kami tidak menggunakan pupuk kimia dan tidak ada musuh alami pisang di Jepang, jadi ini adalah penanaman non-pestisida," kata Tanaka.

IlmuwanQueensland berusaha untuk mengembangkan varietas baru untuk menjaga buah Australia yang paling populer ini tetap digemari selama bertahun-tahun yang akan datang.

Ini adalah varietas pisang utama dalam yang beredar secara global sejak awal 1900-an sampai tahun 1950-an, ketika perkebunan di Amerika Tengah musnah oleh penyakit layu fusarium yang menjadi lebih dikenal sebagai penyakit Panama.

Jenis yang lebih baru dari penyakit yang bersumber dari jamur yang ditularkan melalui tanah, Panama TR4, sekarang mempengaruhi tanaman pisang Cavendish Australia.

Keinginan Setsuzo Tanaka untuk menumbuhkan pisang Gros Michel tropis di iklim dingin Jepang didorong oleh kenangannya sendiri saat kecil memakan pisang tersebut ketika pisang di saat buah yang satu ini masih digolongkan sebagai makanan mewah.

"Harapan sederhana untuk memakan banyak pisang menjadi tantangan untuk penelitian ini," kata Tanaka.

"Ia mengembangkan pisang Mongee sebagai hobi.

"Alasan mengapa kulit pisang bisa dimakan adalah varietas Gros Michel yang relatif lebih tipis kulitnya, dibandingkan dengan pisang yang diimpor ke Jepang."

Aman dan manis
Perusahaan ini menentang modifikasi genetik dan tanaman pisang Mongee ini tidak diobati dengan bahan kimia apapun, yang memungkinkan kulitnya dimakan dengan aman.

"Kami tidak menggunakan pupuk kimia dan tidak ada musuh alami pisang di Jepang, jadi ini adalah penanaman non-pestisida," kata Tanaka.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI
Kencang, Truk Hino Jebol Tembok Gereja HKBP Dame di Jalan Asahan Pematangsiantar




Sumber   : detik 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.