Header Ads

Berpuasa Bicara dan Bersosmed


ALQURAN memperkenalkan jenis puasa lain selain puasa konvensional, Manahan diri untuk tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari. Jenis puasa lainnya ialah berpuasa untuk tidak bicara. Ternyata, bagi orang tertentu, lebih sulit berpuasa bicara daripada berpuasa makan dan minum serta berhubungan suami istri. Mungkin karena itulah maka Allah SWT meminta Nabi Zakaria berpuasa untuk berbicara selama tiga malam. "Dia (Zakaria) berkata: Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda; (Allah) berfirman, “Tandamu ialah engkau tidak dapat berbicara dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat.” (QS Maryam/18:10).

Firman Allah ini menunjukkan bahwa menahan diri untuk tidak berbicara kepada manusia, ternyata sesuatu yang sulit. Apalagi jika ada objek pembicaraan yang menarik untuk dibicarakan. Bahkan Alquran menyerukan kita untuk sesekali berada dalam suasan sunyi senyap untuk mengingat Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya: “Sunyi senyaplah segala suara karena (takut) kepada Allah Yang Maha Pengasih, sehingga tiada Engkau dengar kecuali suara halus (bunyi telapak kaki)”. (QS Thaha/20:108). Mengendalikan diri untuk tidak mengumbar pembicaraan, tentu termasuk berpuasa untuk bersosial media, sangat dianjurkan dan nilainya amat besar di mata Allah SWT.

ilustrasi
Khithab (perintah) Allah SWT untuk berpuasa bicara hanya tiga malam, bukannya 30 hari berpuasa untuk tidak makan dan tidak minum. Kali ini Allah SWT meminta Nabi Zakaria berpuasa tiga malam berturut-turut, sebagai bukti beratnya berpuasa bicara. Apalagi saat-saat kita menjadi saksi kunci di dalam suatu peristiwa atau karena kebetulan kita memiliki banyak bahan yang sedang ramai dibicarakan.

Berpuasa untuk bersosial media tentu sama saja sulitnya berpuasa bicara. Jika kita mampu mengendalikan jari-jemari tangan kita untuk menyentuh alat sosial media tentu nilainya juga sangat tinggi, karena daya efek yang ditimbulkannya sama saja dengan menuturkannya di mulut.

Berkali-kali Nabi menasihatkan agar kita membatasi diri untuk bicara, apalagi bicara sembarangan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah berkata dengan baik atau lebih baik diam.” Seruan dan peringatan Allah SWT dan Rasul-Nya agar manusia membatasi diri untuk bicara, terutama jika yang dibicarakan itu menyangkut aib atau fitnah yang dapat menghancurkan nama baik orang lain, sangat banyak mendapatkan banyak penekanan.

Ini bisa dimaklumi bahwa pembicaraan yang dapat menjadi malapetaka orang lain selalu terjadi di dalam sejarah umat manusia dari dulu sampai sekarang. Tidak sedikit problem sosial rumit muncul karena mulut dan media sosial kita lepas kendali. Alquran dan hadis banyak memberikan contoh tentang perumpamaan orang yang tega menghancurkan orang lain melalui fitnah dan tudingan disebutkan di dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu ialah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat/49:12).

Banyak lagi ayat dan hadis yang berbicara senada dengan ayat ini, yang kesemuanya memperingatkan kita agar berhati-hati menggunakan mulut dan sosial media. Memfitnah atau membongkar aib orang lain semakin memprihatinkan akhir-akhir ini. Kita khawatir ada orang yang mencari keuntungan materi di balik penyingkapan aib orang lain. Jika itu benar adanya, harta atau materi tersebut dikhawatirkan bermasalah, paling tidak kurang berkah.

Di berbagai media televisi banyak kita menyaksikan infotaiment yang mempreteli aib orang lain. Ironisnya, perbuatan yang tercela ini paling banyak diminati para pemirsa. Perhatikan media infotaiment yang ditayangkan hampir semua TV, baik TV publik maupun TV berlangganan. Yang paling banyak menyedot pemirsa ialah tayangan tersebut. Isi tayangan itu ialah pengungkapan hal-ihwal para selebritas, pejabat, dan tokoh-tokoh publik lainnya. Isi pemberitaan tersebut hampir semuanya tentang hal-hal yang miring yang dapat memojokkan orang lain.

Pengungkapan aib orang lain melalui media sama dengan pembunuhan karakter orang itu. Karena itu, pengungkapan aib, fitnah, dan gosip ini harus menjadi keprihatinan kita Bersama.

Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta


Sumber    : mediaindonesia

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.