Header Ads

Brondong Lebih Menggoda Juragan Kos Lupa Daratan


LINTAS PUBLIK, USIA sudah 40 tahun, tapi Ny. Pintam, masih suka brondong. Kalau brondong jagung (popcorn) tak masalah, tapi ini brondong dalam arti lelaki lebih muda. Kontan Subur, 50, suami menceraikannya, dan usaha rumah kos yang jadi biang keroknya langsung ditutup. “Ketimbang jadi tempat maksiat,” kata Subur.

Agar ekonomi sehari-hari berkecukupan, banyak cara dilakukan oleh setiap keluarga. Ketika gaji suami tak memadai, istri di rumah bisa usaha rumah kos, jika punya. Atau buka warung, bisa juga jadi agen pulsa atau gas melon. Pendek kata apa saja bisa dilakukan, sepanjang halal dan tidak merugikan orang lain.

Subur warga Tambaksari Surabaya, semula pekerja di kantor swasta. Tapi ketika terjadi pengurangan pegawai, dia yang terkena. Ada memang pesangon, tapi sangat tidak memadai. Untung dia punya SIM B Umum, sehingga jadi sopir truk untuk antar barang ke luar kota masih ada perusaan ekspedisi mau menerimanya. Jika sedang dines, Subur bisa seminggu atau lebih baru pulang kembali ke Surabaya. Kini kehidupannya benar-benar di atas roda.

Brondong Lebih Menggoda Juragan Kos Lupa Daratan

Ny. Pintam di rumah buka usaha rumah kos-kosan, tak kurang dari 10 pintu. Jika perpintu Rp 500.000,- saja sebulan, paling apes Rp 5 juta masuk kantong, bebas pajak pula. Maka secara ekonomi sudah lumayanlah. Belum pemasukan dari hasil suami jadi sopir truk. Makannya pun juga lain. Biasanya awan mbayung sore kangkung seperti lagu Bandar Jakarta, sekarang sering makan pakai rawon daging.

Pendek kata soal makan terjaminlah. Tapi bagaimana dengan makan bawah? Wah, ini yang kacau balau. Subur yang pulang 10-7 hari sekali membuat Pintam sering kesepian. Sampai rumah pun suami sering lupa akan kewajibannya dengan alasan capek. Walhasil selama 3-4 hari off di rumah, kebanyakan tidur mendengkur, jarang memberikan nafkah batin untuk istri.

Lama-lama tak tahan juga Ny. Pintam, sehingga dia kemudian mencari solusi sendiri. Kebetulan salah satu anak kosnya terdapat mahasiswa usia 25 tahunan, namanya Wahyu. Tongkrongannya cukup lumayanlah, sampai-sampai Ny. Pintam suka terpesona dibuatnya. Asal melihat Wahyu otaknya langsung ngeres, “Tongkrongannya saja oke, apa lagi tangkringannya.”


Dikirim oleh Lintas Publik pada 8 Maret 2018


Lupa bahwa anak muda itu lebih pantas jadi anaknya, dia suka memberikan perhatian lebih, dalam rangka penjajagan. Kadang Ny. Pintam mancing-mancing, sengaja mendatangi kamar Wahyu dengan pakaian seronok. Dalam usia 40 tahun bini Subur ini memang masih kelihatan seksi, sekel nan cemekel, sehingga Wahyu jadi melotot dibuatnya.

Berkali-kali dipancing, lama-lama Wahyu kena juga. Ibarat kucing, masak ada dendeng goring dianggurkan saja? Di kamar sang mahasiswa itulah, perbuatan mesum itu pertama kali terjadi. Awalnya Pintam yang mengajari, tapi karena Wahyu memang sangat berbakat, cepat menguasai medan. “Pinterrrr….,” kata Pintam seperti guru TK saja.

Sejak itu Pintam tak pernah peduli akansuami yang jarang pulang. Toh taka da Subur, ada Wahyu sebagai ban cadangan. Dan karena servis anak muda brondong itu sangat memuaskan, bayar telat pun tak pernah ditagih, bahkan sering dibebaskan pembayaran uang kos tersebut.

Lama-lama aksi mesum Pintam ketahuan oleh adik iparnya, sehingga dia lapor pada Subur selaku pemilik domain. Tentu saja sopir truk Surabaya – Jakarta itu marah besar. Istrinya tak hanya dimaki-maki, tapi juga dibawa ke Pengadilan Agama Surabaya untuk proses perceraian. Bahkan rumah kosnya pun segera ditutup semuanya, dengan alasan jangan jadi berkepanjangan untuk perbuatan maksiat.

Kasihan anak kos yang lain, digeneralisir seenaknya.


LIHAT JUGA VIDEO DI BAWAH INI



Sumber   : poskota 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.