Header Ads

Cerita Masinis Perempuan MRT Mulai Berjuang di Profesi Tak Seksi


LINTAS PUBLIK - JAKARTA,  Profesi sebagai masinis bukan pekerjaan yang umum dilirik oleh perempuan. Namun, cerita berbeda datang dari para perempuan yang memilih untuk berjuang sebagai calon masinis MRT.

Dari 41 calon masinis MRT, 6 orang di antaranya adalah perempuan. detikcom lalu berkenalan dengan 3 perempuan yang memilih profesi 'tak seksi' ini yaitu
Indri Yulia, Tiara Alicia Fitri, dan juga Nidya Larasyuniati.

Ketiga calon masinis itu saling menceritakan mengenai latar belakang masing-masing, mulai dari pendidikan mereka sampai alasan mereka memilih berprofesi sebagai masinis saat konferensi pers di Kantor MRT, Wisma Nusantara, Jl. MH Thmarin, Jakarta Pusat, Rabu (18/4/2018).

Masinis perempuan MRT
Ada Indri (23) yang ternyata sudah tertarik dengan dunia perkeretaapian sejak duduk di bangku SMA. Perempuan asal Lampung Timur itu lalu menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Tansportasi Darat yang berada di Bekasi (STTD).

"Dulu waktu SMA saya pengennya masuk ke sekolah transportasi kemudian memandang transportasi yang berkembang itu sepertinya kereta api. Itu saya sok tahu sih tapi jadi nyari sekolah basic kereta api," ungkap Indri.

Cita-cita Indri itu didukung penuh oleh orang tuanya. Mereka juga memberi pilihan ke putrinya itu untuk memilih sekolah transportasi darat, laut, atau udara.

"Yang ngarahin orang tua, kita ungkapkan pingin sekolah transportasi terus pilihannya ada udara, laut dan darat. Jadi pengen apa? Ditanya orang tua gitu, saat itu orang tua mengarahkan pengennya kereta api, dan adanya di STTD," katanya.

Cerita senada tentang dukungan dari orang tua datang dari Laras (22). Pilihannya untuk menjadi masinis juga untuk mendobrak pola pikir tentang perempuan yang sudah terlanjur mengakar di masyarakat.

"Itu mindset kita sendiri yang yakin kita bisa, mungkin laki-laki lebih kuat dan kita sedikit lebih lemah tapi bukan berarti kita nggak bisa. Mindsetnya kalau kita bisa pasti bisa," ucap Laras.

Laras sendiri tak sabar menanti operasional MRT pada 2019 mendatang. Dengan demikian, dia bisa memulai kesehariannya sebagai masinis.

"Saya excited sih karena nggak cuma masinis ya karena teman-teman maintainance yang biasanya pekerjaan pria itu jadi dilakukan sama kita," ungkapnya.

Ada pula cerita Tiara (21). Lulusan Akademi Perkeretaapian Indonesia ini awalnya tak bercita-cita jadi masinis.

"Kalau saya semenjak saya sekolah di perkeretaapian Madiun, itu pas sudah mulai sekolah itu saya baru sadar 'oh begini toh kerja masinis'," kisah Tiara.

Selama pelatihan jadi masinis MRT, Tiara mendapat sederet pengalaman menarik. Para calon masinis ini juga sempat 'ditempa' di Malaysia.

"Saya sudah berkaca dengan masinis-masinis wanita lain di Malaysia, apa yang memuat betah jadi nyaman karena pertama, dari hati tulus dan kedua itu karena kita itu perasaannya senang bisa mengantarkan penumpang sampai tujuan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Railway Operation MRT Mega Indahwati Nataksa menegaskan kalau selama ini tidak ada perlakuan khusus antara pekerjaan masinis perempuan dan laki-laki.

"Peelakuan yang kita berikan trainee wanita dan trainee pria itu sama perlakuan kita dari mulai diklat sudah kita perlakukan sama nggak ada perbedaan," tegas Mega.

Sumber   : detik 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.