Header Ads

Emak-Emak Sudah Nikah Siri Tapi Masih Juga Terus Digoda


YANG demen emak-emak ternyata bukan Capres Prabowo dan Cawapres Sandiaga saja, Garnadi, 46, warga Malang juga doyan banget. Indikasinya, meski Ny. Sri Lestari, 41, sudah dikawin siri oleh Riswanto, 53, masih dikejar-kejar pakai HP. Tentu saja Riswanto marah, Garnadi pun dikaplok seperti jaman Jepang.

Jaman Jepang dulu (1942-1945), tentara Jepang terkenal galaknya. Lewat depan tangsi militer tidak menunduk hormat, pasti dipanggil lalu dikaplok mukanya pakai tangan. Maka jika Asmuni Srimulat suka bilang “belum pernah dikaplok Jepang kamu”, ya seperti itulah gambarannya. Dulu PETA-nya Supriyadi sampai berontak di Blitar (14 Februari 1945) juga karena tak sudi dikaploki Saudara Tua.

Garnadi yang baru berusia belum kepala lima, saat Jepang masuk Indonesia, jelas belum lahir, masih di pucuk pring (baca: belum diprogram). Karenanya dia belum pernah tahu bagaimana rasanya dikaplok Kenpetai (polisi Jepang). Kalau makan petai sering, sampai baunya brang….breng ke mana-mana.


Saking belum tahunya rasa muka panas dikaplok Jepang, dia pede saja bersaing memperebutkan janda emak-emak, Ny. Sri Lestari. Padahal rifalnya, Riswanto, orangnya tinggi besar seperti raja Lamdahur dalam kisah wayang golek. Bila terjadi konflik, sekali kepret pasti nungging sampai terkencing-kencing.

Sri Lestari warga Pagelaran, Malang, memang janda lumayan cantik. Maka meski sudah emak-emak banyak pula peminatnya. Coba saja dia jadi emak-emak yang militant sedikit, kemungkinan akan direkrut Cawapres No. 02 untuk dijadikan relawan, demi mensosialisasikan tempe setipis kartu ATM.

Dari sekian peminat Sri Lestari, rupanya yang paling serius hanyalah Garnadi dan Riswanto. Mereka pun bersaing secara ketat, dengan mengeksploitir kelebihan masing-masing. Garnadi merasa lebih muda, santun, seiman dan sekampung. Sedangkan andalan Riswanto, merasa lebih mapan ekonominya, badan tinggi besar, ngelamar kerja di Pasar Induk beras pasti diterima.

Menghadapi dua kontestan ini, Sri Lestari bingung menjatuhkan pilihan. Mau pilih mapan secara ekonomi, atau mapan turu (berangkat tidur) alias hanya diajak kelonan melulu? Setelah melalui salat istikhoroh sesuai keyakinan agamanya, dia pun menjatuhkan pilihan ke Riswanto. Meski hanya dikawin siri, bagi Sri Lestari asal pasokan bonggol dan benggol berbanding lurus, tak masalah.

Tentu saja Garnadi kecewa tereliminir dari perebutan emak-emak enak ini. Jika orang normal, ketika cewek yang ditaksirnya sudah diambil orang, ya diikhlaskan saja, mencari perempuan yang lain. Bukankah dunia tak selebar daun kelor? Stok wanita di Kabupaten Malang sampai tahun baru 2019 dan Lebaran 14390 H dijamin aman.

Tapi ya itu tadi, karena seumur-umur belum pernah dikaplok Jepang, meski sudah bini orang Sri Lestari terus ditelponi, diajak japri di WA. Celakanya, bini Riswanto itu jadi emak-emak yang tak mau menyakiti orang. Kasihan pada Garnadi yang gagal enak-enak bersama emak-emak, segala kontak HP-nya dijawab dengan santun.

Ketika membaca SMS dan WA-nya Garnadi yang terus merayu-rayu istrinya, lama-lama Riswanto geregetan juga. Maka begitu ketemu teroris rumahtangga itu, emosinya langsung meledak. Mata kanan Garnadi ditonyo (disodok) dengan jab mematikan. Langsung Garnadi ambruk, kepala kliyengan seperti orang telat sarapan, dan kemudian pingsan.

Begitu sadar setelah ditolong orang, Garnadi melapor ke Polsek Turen. Tak lama kemudian lelaki dari Gedong Kulon itu ditangkap dan dijadikan tersangka. Ancaman hukumanya paling banyak 8 bulan penjara.

Nanti bebas dari LP masih rosa-rosa macam Mbah Marijan.

sumber  : posk 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.