Header Ads

Cleaning Service Juga Bisa jadi PNS


LINTAS PUBLIK, BISA menjadi pegawai negeri tidak pernah terlintas atau terbersit dalam pikiran, Sarwan, 51. Sebagai anak desa yang hanya jebolan SMP, keinginannya tidak muluk-muluk, yang penting bisa bekerja. Sehingga bisa membantu orang tua dan mencukupi kebutuhannya.

Namun, takdir menentukan lain. Lelaki asal Cilacap, Jawa Tengah yang pekerjaannya membuat kliping koran ini, berhasil lolos CPNS dan menjadi PNS di Pemprov DKI Jakarta.

Sarwan, PNS Pemkot Jakarta Pusat. (Ist)
“Saya sangat bersyukur bisa menjadi PNS. Sebelumnya tidak pernah kepikiran, apalagi cita-cita menjadi PNS. Pokoknya asal bisa kerja saja,” ucap Sarwan, saat berbincang, Minggu (17/2/2019).

Dirinya sangat tahu diri, tidak berani bercita-cita menjadi PNS mengingat hanya lulusan SMP dan berasal dari desa. “Ya, ngukur dirilah, hanya lulusan SMP dan kerjanya mencangkul di sawah membantu orang tua,” kata lelaki dua anak ini.

Setelah lulus SMP pada tahun 1987, Sarwan langsung ke Jakarta dan bekerja di proyek bangunan. Karena mau meneruskan sekolah ke STM tidak ada biaya. “Jadinya kerja di bangunan, hampir selama tiga tahun,” terangnya.

Merasa berat kerja di proyek, akhirnya pindah menjadi petugas cleaning service di kantor Walikota Jakpus dengan gaji Rp 30 ribu/bulan. “Waktu itu karena masih bujangan, gaji Rp 30 ribu ya cukup. Karena tinggalnya menumpang di rumah paman,” tuturnya.

Bekerja sebagai cleaning service dijalaninya selama hampir lima tahun. Dirinyapun pindah menjadi tenaga honorer di Bagian Humas dan Protokol Walikota Jakpus hingga berubah menjadi Sudin Kominfotik.

Tugasnya membantu membuat kliping koran untuk dibagikan ke para pejabat di lingkungan Pemkot Jakarta Pusat.

“Honornya sama Rp 30 ribu/bulan, tugasnya membuat kliping koran jadi jam 06.00 pagi harus sudah sampai,” ujar Sarwan.

TENAGA HONORER

Lambat laun honornya terus naik hingga Rp 500 ribu/bulan. Dirinya juga bisa meraih ijazah SMA setelah mengikuti Kejar Paket C.

Bekerja sebagai honorer banyak suka dukanya. “Dukanya kalau pas honor terlambat dibayarnya. Bahkan pernah sampai beberapa bulan. Tapi, Alhamdulillah rezeki ada saja,” katanya.

Guna menutupi untuk ongkos, terpaksa jual koran bekas, kardus dan kertas yang sudah tidak terpakai. “Jadi ibarat jadi pemulung buat nambah pendapatan,” jelas Sarwan sambil tertawa.

Perjalanannya untuk bisa menjadi PNS terbuka lebar. Setelah ada pendataan bagi tenaga honorer yang masih di bawah 10 tahun untuk ikut tes CPNS. Tapi tetap harus bersabar tidak langsung tes, namun harus menunggu sekitar 2 tahunan baru tes CPNS.

Hasilnya dirinya dinyatakan lulus tes CPNS. “Saya malah nggak tahu kalau lulus, temen yang ngasih tahu kalau lolos. Eh, ternyata setelah dicek benar lolos. Rasanya waktu itu campur aduk, ya senang ya terharu. Karena tidak pernah menyangka bisa jadi PNS,” ujar Sarwan.
Lulus CPNS tahun 2014 dan pada Oktober 2016 mendapatkan SK pengangkatan sebagai PNS. “Orang tua waktu itu juga tidak menyangka kalau bisa jadi PNS. Jadi di kampungpun lakukan syukuran,” tuturnya.

Sudah sekitar 3 tahun, dirinya menjadi PNS dan ditempatkan di Sudin Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Jakarta Pusat. Semua tugas dijalani dengan penuh tanggung jawab dan disiplin. “Jangan pernah putus asa, jalani dan jangan milih-milih pekerjaan, lakukan semua dengan ikhlas. Semua sudah diatur sama Alloh SWT,” kata Sarwan.

sumber  : posk 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.