Header Ads


Ephorus HKBP Pdt. Justin Sihombing Pernah Menolak Mobil, Ini Pesan Istrinya di Umur 100 tahun


Catatan : Tagor Sitohang - Siantar

Ny. Pdt. DR. Justin Sihombing dengan nama lengkap Biblevrow Lamian Br. Saragih  adalah istri Ephorus HKBP hasil Sinode pertama di HKBP, menikah di gereja HKBP Sudirman sekitar tahun 1957 sebagai istri kedua oleh Pdt. H.F. de Kleine berkebangsaan Jerman, Pdt Justin Sihombing menikah lagi karena istri pertamanya Boru Gultom meninggal dunia.

 Pdt. DR. Justin Sihombing sendiri memimpin HKBP sebagai Ephorus sejak tahun 1942 sampai 1974.

Biblevrow Lamian Br. Saragih sendiri lahir di Raya Usang 19 Juli 2019, akan berulang tahun yang ke 100 pada tahun 2019 ini.

BACA JUGA  Berumur 97 Tahun, Ny.Pdt. DR. Justin Sihombing Ephorus HKBP Makin Sehat

Biblevrow Lamian Br. Saragih  dengan Gerda Sihombing putrinya dan L. nababan menantunya.
Lasmian saragih pernah mengabdikan diri sebagai Tata Usaha atau bekerja di kantor Gubernur Sumatera Utara sekitar 4 tahun, pekerjaan yang dilaksanakan disana adalah mengetik surat-surat penting gubernur pada saat itu.

Karena punya pendidikan yang mumpuni tamat sekolah Bibelvrow, Lamian Br. Saragih yang sudah menjadi pegawai tetap dikantor Gubernur diminta untuk kembali melayani di HKBP.

Keinginan melayani sebagai Bibelvrouw di HKBP disampaikan keluarga kepada Lasmian pada saat itu.

"Sudah 4 tahun aku bekerja di kantor gubernur, tapi karena keluarga tak setuju aku bekerja dikantor gubernur, karena aku tamat dari Bibelvrouw. Aku kembali ditawarkan untuk melayani jemaat di Pematang Raya,"ungkap Lamian Br. Saragih kepada lintaspublik.com beberapa waktu lalu di jalan Damar Laut no.2  Parluasan, Kelurahan Kahean kecamatan Siantar Utara Pematangsiantar.

"Sayang ma sikolah mi, Bibelvrow ho, alai dikantor gubernur ho karejo, ikkon tu garejai do ho mulak, (sayang sekolahmu itu, kaukan Bibelvrow, tapi kau kerja dipemerintahan, kembalilah kau melayani di gereja),"terang Lasmian dalam bahasa batak.

Jadi setelah tidak lagi bekerja dikantor gubernur, Lasmian Saragih ditempatkan bertugas di GKPS Pematang Raya.

"Di GKPS Rayalah aku lama melayani, stelah itu ke GKPS di Simalungun termasuk Seribudolok, kecamatan Purba dan daerah disekitarnya,"kata Lasmian Saragih.

Pokok doa dipintu kamar Lasmian Saragih.

Membaca Alkitab dan Anugrah Tuhan

Sejak sekolah dan tamat sebagai Biblevrow, Lamian Br. Saragih selalu menerapkan membaca Alkitab setiap akan melakukan pekerjaannya, baik setelah bangun dari tidur, maupun mau bekerja.

"Saya selalu memulai pekerjaan saya dengan berdoa ditempat tidur, saya mohon petunjuk dari Tuhan kemanapun saya mau melangkah,"katanya selalu membaca Alkitab setiap memulai doanya.

"Saya akan menandai buku Alkitab ini, apa saja ayat yang saya baca, dan selalu saya menemukan inspirasi baru walaupun ayat itu sudah puluhan kali saya baca,"jelas Lasmian.

"Inilah tanda ada sekitar 20 kali satu ayat saya baca, dan selalu ada makna baru yang terkandung dalam FirmanNya, jadi jangan malas baca Alkitab, karena Anugrah Tuhan yang baru pasti ada didalamnya,"terang Lasmian, sambil menunjukan garis-garis di Alkitabnya, bahwa ayat itu sudah beberapa kali dibaca.

Penghargaan Doktor Pdt, Justin Sihombing dari Jerman

Anak Pendeta Justin Sihombing

Adapun anak Pendeta Justin Sihombing dan boru Gultom ada 7 bersaudara 4 laki-laki dan 3 perempuan.

Sementara anak dari perkawinan Pendeta Justin Sihombing dan Lasmian boru Saragih ada 3 orang yaitu : 1. Ana Bernike Sihombing, 2. Ani Doris Sihombing (menantu Drs. L. Naibaban), 3. Gerda Ruth Sihombing (menantu. Alm.Parulian Nainggolan). Dan 4 cucu dan cucu cicit.


Menolak Pemberian Mobil

Cerita Lasmian Saragih yang kini berumur 100 tahun menceritakan bahwa setelah pensiun sebagai pendeta HKBP, Pdt. DR. Justin Sihombing pernah menolak hadiah mobil dari seorang pendeta Jerman.

Memang pada saat itu, setelah pensiun Pdt. DR. Justin Sihombing sama sekali tidak memilih apa-apa, termasuk rumah untuk tempat tinggal.

BACA JUGA  Kunjungan Gubsu ke Kantor Pusat HKBP Ukir Sejarah, Erry Nuradi : HKBP Berperan Membangun Sumatera Utara

Pdt. DR. Justin Sihombing
"Setelah pensiun dari pendeta kami tidak punya apa-apa, dan ada seorang pendeta Jerman yang akan kembali penugasan memberikan mobil, tapi mobil itu ditolak karena tidak bermamfaat untuk kami,'kata  Lasmian Saragih bingung apa yang harus dilakukan mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selanjutnya setelah pensiun.

Dengan ketulusan hatinya ingin memberi, pendeta  Jerman itupun menjual mobilnya, dan memberikan uang hasil penjualan mobilnya kepada pendeta Justin Sihombing.

"Uang itupun diberikan kepada kami, dan langsung kami belikan pertapakan dan rumah yang kami tempati saat ini,"kata Lasmian Saragih didampingi putrinya Gerda Sihombing dan menantunya L.Nababan.

BACA JUGA  Darwin Lumban Tobing Ephorus HKBP 2016 - 2020, Dilantik 18 September 2016

Mendali untuk menghargai jasa pelayanan Pdt. Justin Sihombing, keluarga mengira ituemas ternyata Bukan.

Pelayanan Pdt. DR. Justin Sihombing

Menurut Gerda Sihombing salah satu putri Pdt. DR. Justin Sihombing mengatakan, bahwa orang tuanya sangat rendah hati, Pdt. justin sihombing lebih mementingkan pelayanan kepada jemaat dari pada kepentingan keluarganya.

"Pelayanan untuk jemaat itu harus diutamakan, karena kalau bapak mau berkotbah pada hari Minggu, hari Sabtunya dia mengurung diri untuk mempersiapkan kotbahnya, dan tidak bisa diganggu. Jadi hari Sabtu itu dia berdoa dikamarnya, mempersiapkan naskah kotbahnya, Jadi kalau ada keluarga di hari Sabtu jangan harap bisa lama jumpa, dia pasti bilang akan dibicarakan hari-hari selanjutnya, "terang Gerda Sihombing, bahwa Pdt. Justin Sihombing orang yang disiplin dengan waktu.

Gerda Sishombing juga sering bertanya kepada bapak itu, kenapa harus berlama-lama berdoa, bukankah tidak cukup naskah itu menjadi bahan kotbah, Pdt, Justin menjawab, bahwa untuk Tuhan kita harus serius dan meminta dalam doa, agar apa yang dikerjakan sesuai dengan kehendak Tuhan.

"Saya berkali-kali berdoa, agar apa yang saya sampaikan (firman Tuhan) dapat diterima bagi yang mendengarnya. Dan siapa yang mendangar mendapat berkat Kasih Tuhan,"Kata gerda menirukan ucapan Pdt Justin kala itu.

BACA JUGA  Nyonya Ephorus HKBP Pdt. DR. Justin Sihombing Telah Sehat Kembali

Kursi peninggalan Pdt. justin Sihombing masih tampak kokok.
Menjemaati dan Mendoakan Jemaat

Kata Gerda lagi, sampai saat ini ibunya Lamian Br. Saragih masih terus menjemaati di lingkungannya, maupun para jemaati, orang yang datang kekediamannya. Banyak juga jemaat yang ingin dilayani, baik pendalaman Alkitab, dan juga permohonan doa.

"Banyak jemaat dilingkungan ini yang datang khusus untuk mendalaman Alkitab, ada juga yang dari luar daerah datang khusus untuk didoakan. Mamak ini selalu berdoa untuk orang-orang yang datang atau orang yang mau didoakan, jadi setiap hari dia berdoa untuk orang lain, dan itu tertulis didalam pokok-pokok doanya, siapa saja yang akan didoakannya,"ungkap Gerda Sihombing memberitahukan disamping pintu kamar ibunya ada nama-nama orang yang akan didoakan.

"Pengalaman saya yang saya rasakan, dan sebagai anak pendeta dan ibu Bibelvrouw, bahwa istri pendeta juga harus menjadi solusi bagi keluarganya,"terang Gerda, bahwa pernah terjadi ketegangan (masalah)  antara Pdt. Justin Sihombing dan pendeta lainnya, justru yang menyelesaikan masalah adalah ibunya Biblevrow, Lamian Br. Saragih yang pasih bahasa Simalungun ini.

"Justru persalahan bapak dan pendeta itu, mamak yang menyelasaikannya, saya bangga memiliki bapak dan ibu yang mengutamakan pelayanan kepada jemaatnya, tanpa meninggalkan  kecintaanya pada keluarga,"terang Gerda.

"Bapak juga mengajarkan kepada kami agar tidak berpangku tangan terhadap orang lain. Jadi pada saat bapak pensiun bapak mengajarkan kami beternak, bercocok tanam sayur-sayuran, dan hasilnya kami jual sendiri, karena memang gaji pensiun bapak tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena selama melayani sebagai Ephorus HKBP bapak tidak ada menabung, semua dipenuhinya untuk pelayanan,"kata Gerda Sihombing, mengingat masa lalu, bahwa mereka harus membawa hasil pertaniannya baik sayuran, buah, dan ubi kayu untuk dijual di pasar pagi di Simpang Rambung Merah.

BACA JUGA  Sekolah Minggu HKBP Mahanaim Kunjungi Panti Karya Hephata, Ini Pesannya

Ayat emas Peninggalan Pdt. Justin Sihombing dalam bahasa batak.

Penerus Pdt. DR. Justin Sihombing

Buah tidak jauh dari pohonnya, kini setelah Pdt. DR. Justin Sihombing lama meninggal kerinduan keluarga terhadap penerus Justin Sihombing tercapai.

"Kerinduan kami keluarga terobati, kini sudah ada penerus Justin Sihombing, namanya Justinos, tepatnya Justinos Nainggolan,'kata Gerda Sihombing, bahwa Justinos Nainggolan adalah anak bontotnya (terakhir) yang sudahmenyelesaikan Master Theologia.

"Mudah-mudahan dia Justinos dapat melanjutkan perjuangan Pdt. DR. Justin Sihombing melayani jemaat Tuhan,'tutup Gerda.

BACA JUGA  Sekolah Minggu HKBP Mahanaim Jiarah ke Makam Nommensen dan Wisata ke Salib Kasih, Ini Fotonya

Kenangan 75 tahun ulang tahun Lasmian Boru Saragih.

Jejak Justin Sihombing

Seperti diketahui, Justin Sihombing lahir di Pangaribuan, Tapanuli Utara. Tumbuh jadi orang terdidik pada masa zending Jerman dan kolonial Belanda. Jenjang pendidikan Sekolah Dasar (Sikola Metmet), Sekolah Tinggi (1908-1912) dan Sekolah Pendeta (1923-1925) ditempuh di lembaga milik zending Jerman.

Para misionaris Jerman, termasuk Dr. I.L. Nomensen dan Dr. Johannes Warneck, simpatik terhadap Justin Sihombing. Mereka mengenal Justin sebagai orang cerdas, berbakat dan terpercaya serta loyal kepada pimpinan. Karakter kepribadian ini cukup mewarnai kisah kehidupan Justin dalam pusaran pelayanan zending Jerman.

Sejak usia 17 tahun, Justin telah berprofesi sebagai guru. Tahun 1907-1908, guru penolong atau guru bantu di Sekolah Dasar (Sikola Metmet), milik zending, di Sibingke-Pangaribuan. Ia juga berhasil meraih sertifikat kecakapan mengajar dari pemerintah kolonial Belanda. Lalu mulai 1 Oktober 1912 hingga 1923 jadi guru kepala Sekolah Dasar merangkap guru jemaat di Pakpahan-Pangaribuan.

Tahun 1925-1928, ia mengemban tugas sebagai pendeta evangelis. Ia menerima penugasan khusus dari ephorus untuk mengunjungi dan mengadakan evangelisasi atau penginjilan di berbagai daerah. Pada 21 Oktober 1928, Justin dikukuhkan sebagai pendeta jemaat di Medan. Tetapi statusnya sebagai pendeta evangelis tetap melekat. Ia harus membagi waktu mengunjungi daerah-daerah tertentu sesuai arahan ephorus.***

LIHAT SELENGKAPNYA KATA BIBELVROUW LASMIAN SARAGIH ISTRI 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.