Header Ads

Bedug Pertama Ku, Dan Pengalaman Ku


Dihari yang cerah, aku diajak ayahku ke ladang (kebun) untuk menanam bibit sirsak dan alpukat. Awalnya aku menolak untuk ikut, karena hari itu cuacanya sangat panas.

Perjalanan kami menuju ke ladang cukup jauh. Jalannya yang rusak, banyak lubang-lubang, dan jalannya yang berkelok-kelok mewarnai perjalanan kami. Sebenarnya aku bingung, kami mau ke ladang siapa?

Setelah beberapa lama perjalanan kami pun sampai disatu kampung, namanya Tanjung Selamat. Kami berhenti disebuah rumah di dekat masjid. Ayahku Pergi ke dalam rumah itu dan menyapa seorang orang tua yang ada disana.

BACA JUGA  Indahnya Samosir Kampung Ku, Mana Kampung mu ......

Masjid Al_Iman Tangjung Selamat dan Ilustrasi Seorang memukul Bedug.ist
Ayahku memanggilnya dengan ‘Lek’ (Pak lek). Tampaknya ayahku sangat akrab dengannya. Ayahku kembali dari rumah itu dengan membawa cangkul dan parang. Lalu kami pergi, dan tak jauh dari rumah itu hanya berjarak sekitar 30-an meter kami pun sampai di ladang yang dimaksudkan ayahku.

Kami pun segera bekerja mencangkul untuk mengolah tanah. Ayahku mulai mencangkul, tapi aku bingung mau mengerjakan apa, adikku memotong rumput disekitar ladang itu. Lalu ayahku menyuruhku memotong satu tanaman liar disekitarnya.

Lalu setelah selesai itu ayahku mengajakku mengambil pupuk tak jauh dari ladang kami. Saat mengambil pupuk, disitu aku mendengar suara yang tak pernah kudengar sebelumnya. Bunyinya khas kudengar di televisi, "Duk...duk...duk! Waaw! Aku kaget." ternyata bunyi itu keluar dari bedug yang ada di Masjid tadi, dan nada bedug itu terdengar sekitar pukul 15.30 WIB.

"Asli bedug nusantara," pikir ku, dan ayah ku bilang bahwa bedug itu terbuat dari kulit lembu yang didesain dengan bulatan kayu, dan itu pertama kali aku mendengar langsung suara bedug.

Setelah itu, kami pun melanjutkan pekerjaan kami mengambil, dan berkali-kali kami harus mengantar pupuk yang kami ambil dari limbah bakaran sampah.

Setelah  pupuk yang kami ambil cukup, kami pun mulai menanam bibit Sirsak dan Alpokat. Kami menanam di tiga tempat berbeda.

Saat sedang menanam bibit aku melihat ada beberapa anak yang sedang menggembalakan kambing. Aku menghampiri mereka untuk melihat kambing. Kambingnya lucu dan jumlahnya banyak.

Saat aku datang ada beberapa kambing yang mendekat kepadaku. Lalu aku mengajak anak-anak itu untuk foto bersama dengan kambingnya.

BACA JUGA  Pramuka dan Ceritaku Tentang Pemimpin Regu di Persami

Kambing Mendekat ketika ingin difoto bersama para pengembala.
Mereka kelihatan malu-malu saat aku mengajak foto bersama. Dan saat aku memotret mereka ada seekor kambing datang kedepan seakan-akan ingin difoto. "Lucu juga,"pikir ku lagi, bukannya anak-anak penggembala kambing  yang difoto, tapi malah memotret kambingnya.

Setelah melihat-lihat kambing aku kembali membantu ayahku menanam bibit buah-buahan yang kami bawa dari Pematangsiantar.

Saat keluar dari kebun itu, ada seekor lembu yang besar sedang makan rumput yang dijaga oleh seorang bapak. Saat kami akan lewat, bapak itu menarik lembu itu agar kami bisa lewat. Tetapi lembu itu membuang kotoran. "ada-ada saja,"pikirku sambil tersenyum.

Kami pun lewat dari tepi agar tidak melewati kotoran lembu tersebut.

Selain menanam bibit Sirsak dan Alpukat, kami juga menanam bibit Mangga. Setelah selesai menaman bibit, ayahku mengajak kami ke rumah yang ayah sebut "Paklek", kami pun disuguhi minum, dan membersihkan diri dirumah itu. Kebetulan saat itu masih suasana Hari Raya Lebaran, kami pun disuguhi kue-kue khas hari Raya.

Dan tak ketinggalan, dari bagasi sepeda motor ayahku, ayahku juga memberikan oleh-oleh kepada "Pakleknya", kulihat ayah ku memberi tentengan tas yang berwarna kekuning-kuningan.

Kami pun mengobrol selama beberapa menit, aku baru mengetahui kalau ladang kami itu ternyata  dirawat (diawasi) oleh "Pak Lek".

Saat kami asik mengobrol ada seseorang datang, Dia seorang bapak yang berjualan sayur dan ikan  yang siap saji  (dimakan) dan berjualan berkeliling kampung itu, dan bapak itu bukanlah penduduk kampung setempat, bahkan bapak itu berjualan ikan siap saji datang dari Pematangsiantar katanya didekat Rindam. "Bapak yang pekerja keras,"kata ku dalam hati.

Cerita bapak itu, bahwa Dia sudah cukup lama berjualan di kampung itu, sudah bertahun-tahun katanya, dan warga disana sudah kenal dekat dengan bapak penjual ikan dan sayuran siap saji itu, tentunya harganya cukup kekeluargaan.

Setelah mengobrol cukup lama, kami pamit pulang. Saat akan pulang, "Paklek" kembali memberikan kami buah Pisang yang diambil (ditebang) langsung dari di depan rumahnya.

"Ini oleh-oleh yah, salam buat opungnya,"ungkap Paklek sambil memberikan satu tanda pisang barangan untuk kami bawa pulang, lalu kami pamit pulang.

Ternyata pengalaman ku pergi ke ladang pada awal Juli 2019 sangat melelahkan.

Bukan saja melelahkan, beberapa kali aku harus merasakan gigitan nyamuk diladang, dan saat di rumah aku merasakan badan ku terasa sakit semua karena kelelahan. Tapi meskipun lelah dan sendi-sendi badan ku terasa sakit, tapi perjalanan ke ladang itu cukup menyenangkan.

Itulah perjalanku, membawa pengalaman baru mengenal bedug khas Nusantara, mengenal suburnya tanah nusantara, karena terlihat aneka tanaman yang cukup hijau dan subur, mengenal kambing lembu yang cukup sehat-sehat di kampung, dan terlihat kehidupan masyarakatnya cukup bahagia.*

Penulis   : Diatama L. Sitohang siswi kelas X SMA Negeri 1 Pematangsiantar

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.