Header Ads

Harapan Keluarga Korban Penikaman di Jalan Cokro Siantar: Pak Polisi, Tangkap Pelakunya!


LINTAS PUBLIK - SIMALUNGUN,  Jenazah korban penikaman di Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar, Sabtu (28/9/2019) dini hari, Viky Erwanto Damanik alias Iwan (35) sudah dimakamkan. Di tengah duka keluarga yang sangat mendalam atas meninggalnya bapak dua anak itu, mereka sangat berharap polisi segera menangkap pelakunya!

BACA JUGA  Driver Gojek Tewas Ditikam saat Minum Bandrek

Viky Erwanto Damanik semasa hidupnya.ist
“Hanya satu yang saya minta sama Polres Pematangsiantar, segera tangkap pelakunya. Itu saja yang bisa menjadi obat sakit hati kami. Sejak kejadian itu, kami tidak tenang sampai sekarang,” kata ibu kandung korban, E Br Girsang yang ditemui di kediamannya, sekaligus rumah duka, di Huta Buah Bolon, Kelurahan Merek Raya, Kabupaten Simalungun, Senin (30/9) sekira pukul 14.00 WIB.

Harapan yang sama disampaikan istri korban, Imelda Margaretha Purba.

“Saya berharap polisi segera menangkap pelakunya. Jangan dia bebas berkeliaran. Kalau tidak dapat, biarlah ia hidup terbayang-bayang tidak tenang, sampai menyerahkan diri,” tukasnya.

Ibu korban, E Br Girsang mengaku, tiga hari sebelum kejadian berdarah yang merenggut nyawa putra sulungnya, ia bermimpi didatangi arwah bapatua korban.

“Almarhum bapatua dan mamatua Iwan datang dalam mimpiku. Dibilangnya, kenapa kalian tidak pesta? Kami sudah di sini. Kami pergi lah ya,” kata ibu korban, menirukan perkataan bapatua korban.

Setelah terbangun dari tidurnya, E Br Girsang belum dapat mengartikan mimpinya. Namun ia selalu berpikir, pesta apa dimaksud dalam mimpinya. Sebab keluarga tidak ada rencana menggelar pesta.

“Bapatua dan mamatua Iwan sudah lama meninggal dunia. Lalu aku telepon lima anakku. Semua sehat. Aku terus berpikir, pesta apa yang dimaksud,” terang E Br Girsang.

E br Girsang baru menyadari arti mimpinya setelah putra kesayangannya meninggal dunia setelah ditikami orang tidak dikenal.

“Inilah mungkin arti mimpiku itu. Tau-taunya maut menjemput Iwan. Sebelumnya juga, kalau aku makan sering tergigit lidahku. Kata orangtua, artinya mau makan daging. Mungkin inilah juga maksudnya,” jelasnya lagi.

Disinggung kenangan terakhir dari korban, E Br Girsang mengatakan, saat berkomunikasi melalui telepon, korban mengaku sehat.

“Terakhir hari Kamis, kami masih manggang-manggang ikan Nila di halaman ini. Besoknya dia telepon menanyakan keadaanku. Sehat-sehat ya, Mak. Itu kata-katanya yang terakhir,” tukasnya.

Sementara itu, adik korban, Yusti Damanik menceritakan, satu jam sebelum kejadian, sepupunya (anak tulang) menelepon. Ia mengatakan, di belakang foto oppung (ibu dari mama) yang sudah meninggal, seperti ada wajah korban.

“Katanya, pas dia melihat-lihat foto, di belakang foto oppung seperti ada wajah bang Iwan, tapi samar-samar. Ternyata satu jam kemudian, ada kejadian menimpa abangku yang sangat mengerikan,” terangnya.

Sedangkan istri korban, Imelda Purba mengatakan, sesuai keterangan saksi di lokasi kejadian, ciri-ciri pelaku antara lain, seorang pria dengan rambut ikal tipis, kulit putih, berjaket hitam, sebelah matanya agak sipit, kepala bagian depan botak, dan mengendarai kereta matic bergaris biru.

“Suamiku pergi bawa becak barang bersama temannya Andre Samosir ke Parluasan untuk mengambil pisang yang datang dari Raya. Setelah ambil pisang, mereka pulang melalui Jalan Cokro. Karena lapar, mereka singgah makan mie di Jalan Cokro,” terangnya.

Awalnya, pelaku masuk ke warung dan memesan mie. Nah, saat akan membayar mie, tiba-tiba pelaku mengeluarkan pisau dan langsung menikam korban. Melihat itu, Andre Samosir berusaha membela korban. Namun pelaku malah mengejar Andre. Andre ketakutan.

“Pedagang mie juga lari ketakukan,” sebutnya. Diakui Imelda, selama mereka berumahtangga hampir enam tahun, suaminya tidak cerita jika ada masalah di luar rumah.

“Selama kami berkeluarga, dia tidak pernah cerita ada masalahnya di luar. Suamiku itu baik, bahkan banyak temannya bilang suamiku baik,” tandasnya.

sumber   : fase 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.