Header Ads


Penghuni Asrama Putri GKPS Keracunan Ikan Tongkol, Rasanya Nggak Enak dan Seperti Bau Formalin


LINTAS PUBLIK - SIMALUNGUN,  Puluhan penghuni Asrama Putri Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Pamatang Raya, Simalungun, keracunan setelah menyantap makan siang dengan lauk ikan tongkol sisik putih. Mereka yang menjadi korban keracunan dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Rondahaim Saragih, Pamatang Raya.

Korban keracunan sebagian merupakan siswi SMP Negeri 1 Raya, SMP Negeri 2, SMP dan SMA GKPS Raya. Kesya boru Girsang (12) siswi kelas 1 SMP Swasta GKPS Raya, warga Garingging, Merek Situnggaling mengaku merasa pusing setelah mengonsumsi ikan tongkol.

“Aku merasa pusing setelah makan ikan tongkol. Baru setengah potong aku makan, udah pusing dan gatal-gatal. Tapi sekarang aku sudah baikan,” terangnya, Rabu (18/9/2019).

Para korban keracunan mendapat perawatan di rumah sakit.
Hal senada diutarakan Eldaulina Saragih (14) siswi kelas 3 SMP Negeri 1 Raya. Menurutnya, ikan tongkol tersebut bau formalin.

“Rasanya nggak enak dan kayak bau formalin. Ikan satu potong tapi aku nggak habis. Setelah makan ikan, lima jam kemudian atau sekira pukul 20.30 WIB aku pusing. Siang itu, yang memimpin makan ibu Asrama, St Frince Purba. Sedangkan yang masak kak Fitri Saragih,” sebutnya.

Korban lainnya, Demsyah Saragih (13) kelas 2 SMP Negeri 1 Raya tampak masih lemas dengan tangan diinfus. Ia mengaku setelah makan ikan sepotong, perutnya terasa panas dan mual.

“Menunya hanya nasi putih sama ikan tongkol disambal, tanpa sayur. Sekitar setengah jam sesudah makan, perutku panas, mual, dan pusing. Ikannya ada bau busuk. Tapi kan aturannya makanan harus dihabiskan, ya sepotong ikan itu habis kumakan,” terangnya.

Diketahui ibu Asrama Putri GKPS Pamatang Raya ada tiga orang, yakni St Frince Purba, Ramelinda Sinaga dan, Mida Sitorus serta staf dapur Fitri Saragih.

Ramelida Sinaga saat diwawancara di Bangsal Anak RS Rondahaim Saragih mengatakan, yang bebelanja ikan mereka berempat ke Pasar Tiga Raya, Sabtu (14/9/2019).

“Kami belanja ikan 20 kilogram untuk 194 siswi dan 4 pegawai,” tukasnya. Masih kata Ramelida, mereka membeli ikan tersebut karena sudah lama tidak mengonsumsi ikan tongkol. Dan, mereka membeli ikan tersebut di pedagang langganan dan biasanya ikannya masih segar.

Kepala Asrama Putri GKPS Pamatang Raya St Prince Purba menambahkan, setelah ikan dibeli, disimpan di freezer lemari es.

“Kami biasanya belanja seminggu sekali. Ikan yang dibeli itu masih segar, dan langsung disimpan di freezer. Mungkin karena sering mati lampu, makanya jadi seperti itu,” jelasnya.

Direktur RS Rondahaim, dr Elisabeth di ruang kerjanya menerangkan kejadian tersebut luar biasa.

“Ini merupakan kejadian luar biasa. Keracunan makanan disebabkan ikan tongkol karena kurang segar dan mengeluarkan racun Histamin (skombrotoksin). Jika mengomsumsi berlebihan, bisa mengakibatkan kematian,” terangnya.

Frizer tempat penyimpanan ikan tongkol.

Elisabeth menambahkan, racun Histamin dikeluarkan oleh ikan tersebut karena kondisinya kurang fresh. Setelah dimasak, racunnya tetap stabil. Sebab yang diserang bagian pernafasan, lambung mual, dan alergi pada kulit penderita.

“Di Raya kan sering mati lampu. Kalau tiga jam saja mati lampu, racunnya sudah keluar,” ujarnya seraya menambahkan sampel ikan masih diperiksa di labotorium di Medan yang dikirimkan Dinas Kesehatan Simalungun.

Para korban sudah menjalani perawatan.

“Kami konsulkan ke dokter spesialis penyakit dalam dan anak-anak, karena pasien rata-rata di bawah umur. Awalnya 53 pasien, dan yang rawat inap 34. Dari yang rawat inap itu, 19 orang kondisinya sudah membaik,” tandasnya.

Sementara staf dapur Asrama Putri GKPS, Fitri Saragih mengaku trauma dengan kejadian tersebut. Dia sendiri, setelah mengonsumsi ikan tongkol itu, bibirnya terasa gatal.

“Kami empat orang beli ikan dari Boru Malau di Pasar Tiga Raya. Setelah kami beli, ikan dicuci bersih, lalu disimpan di freezer” terang Fitri. Ketua Yayasan Pendidikan GKPS Jefri Sipayung mengaku pihaknya akan memerbaiki pelayanan.

“Kita akan memerbaiki pelayanan, seperti menjaga kebersihan. Ini yang pertama dan terakhir. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kami. Kami juga berterima kasih kepada Dinas Kesehatan yang cepat merespon kejadian ini,” sebutnya.

Kasat Reskrim Polres Simalungun AKP Agustiawan saat dikonfirmasi menerangkan pihaknya masih melakukan penyelidikan sambil menunggu hasil laboratorium dari Medan.

“Kita telah melakukan penyelidikan ke lokasi dan masih menunggu laporan dari korban,” tukasnya.

Korban yang Dirawat Inap di RS Rondahaim

1. Mery Christina Aritonang
2. Elda Ulina Saragih
3. Lia Miranda Girsang
4. Chelsia Desriani Purba
5. Julia Lingga
6. Darma Nika Saragih
7. Vanesia Adinda Girsang
8. Indah Damanik
9. Vikayani Purba
10. Monika Saragih
11. Shella Manullang
12. Densia Garingging
13. Tioma Sarieance Naibaho
14. Yosin Purba
15. Wella Seprian
16. Gelta Saragih
17. Karinaman Manjorang
18. Vivia Lingga
19. Kesya Girsang
20. Eklesia Karo-karo
21. Rahel Purba
22. Grey Natasis Saragih
23. Eka,
24. Ernita Haloho
25. Mey Saragih
26. Geby Sipayung
27. Yuni Lestari
28. Jesika Sargih
29. Arta Girsang
30. Elkana Cici Damanik
31. Fina Saragih
32. Arfey Purba
33. Distanti Manihuruk
34. Nikeren Girsang.

Korban yang Rawat Jalan

1. Monita Sinaga
2. Wella Sofrien
3. Eksaudia Sipayung
4. Ririn Saragih
5. Pasto Haloho
6. Merry Olipya Girsang
7. Mutiara Jawak
8. Adinda Tiara
9. Esi Simanjorang
10. Ropica Natasia
11. Herlika Tarigan
12. Hot Murtani
13. Yanda Munte
14. Kakak Rodearna Purba
15. Krisia
16. Adelia Saragih
17. Alfani Saragih
18. Grece Afelin Agape
19. Sisila Munthe


sumber   : fase

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.