Header Ads

Polemik Bantuan Covid untuk Warga di Siantar, Warga Ngaku Dimintai Uang, Relawan Ancam Lapor Polisi


LINTAS PUBLIK, Penyerahan bantuan Covid-19 oleh Pemko Pematangsiantar kepada sejumlah warga yang terdampak, menuai polemik baru.

Sejumlah warga di Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur mengaku dimintai uang namun sembako yang diharapkan tak kunjung datang.

Protes keras bagi mereka yang belum menerima bantuan sembako ini kemudian berlanjut dengan melakukan aksi video yang disebarkan ke lini masa media sosial.

Dalam video mereka mengaku telah dimintai uang mulai dari Rp5 ribu- Rp20 ribu rupiah agar nama mereka masuk sebagai daftar penerima sembako.

BACA JUGA  Kapolri Instruksikan Polres Cari Warga Belum Dapat Bansos

Warga Siopat Suhu yang tidak dapat bantuan Covid-19./dok.lintaspublik.com
Tak berhenti dari video, awak Media  pun mengunjungi warga pada Sabtu (25/4/2020) siang, untuk memastikan apa yang terjadi.

Paseuria Br Butarbutar, nenek berusia 70 tahun mengaku sempat disurvei oleh relawan Kelurahan dan Dinsos untuk menerima bantuan.

Waktu itu, katanya hampir sebulan yang lalu dirinya diwawancarai.

"Saya ditanya umur, tamatan, kerjaannya, tapi nggak ada apa apa. Udah beberapa kali saya disurvei sampai difotolah aku, tapi nggak ada dapat sembako. Padahal sudah kulihat orang-orang bawa beras, telur dari kantor lurah," ujarnya seraya mengatakan dirinya juga pantas menerima bantuan.

Kemudian seorang ibu rumah tangga (35) Dewi Manalu mengaku dirinya sebagai orang yang layak menerima bantuan, lantaran membantu suami dengan memulung juga tak dapat apa-apa.

"Saya rumah pun nyewa, bukan punya pribadi. Ada anak yang mau dikasih makan. Kerjaannya memulung saya," keluhnya.

Sejumlah inang-inang (ibu, red) yang ada di Jalan Sinar Raya, Kelurahan Siopat Suhu juga mengaku kesulitan hidup.

Bahkan ada di antaranya masuk sebagai penerima bantuan beras bulanan PKH namun tak pernah menerimanya.

"Sudah tak pernah lagi saya dapat beras bulanan. Padahal di situ nama saya ada. Nomor saya 73. Ada Sembako Covid-19 pun tak dapat. Apalagi?," ujar seorang inang-inang.

Menanggapi itu, relawan kelurahan yang juga Dinsos Kota Pematangsiantar Dewi br Silaban mengakui ia menerima uang dari warga.

Ia mengaku menerima uang sebesar Rp 170 ribu yang ia gunakan untuk memfotokopi KK, KTP dan mencetak foto warga.

Dewi merasa tersinggung dinilai tidak adil dalam pengajuan sembako. .

"Saya fotokopikan sendiri, karena saya tidak bergaji. Saya bilang tolong uang pengertiannya untuk uang foto kopi saja. Mereka setuju maka dapatlah uang Rp170 ribu. Itulah untuk fotokopi dan uang makan siang kami," katanya.

Dewi kemudian menceritakan bahwa dirinya menerima semua berkas warga dan telah menyerahkannya ke kelurahan.

Namun sampai sembako sudah dibagi-bagikan, nama-nama warga yang menuntut sembako tak masuk dalam list penerima bantuan.

"Terus salah siapa, Pak? Salah saya? Di kampung ini kalau soal bantuan, semua mengaku miskin. Padahal mereka itu sudah masuk sebagai penerima bantuan program pemerintah yang lain," kilahnya.

Dewi menolak keras bahwa warga yang tidak menerima bantuan dianggap tidak dipedulikan.

Sebelum adanya pandemi Covid-19, sejumlah warga termasuk lansia masuk sebagai penerima bantuan rutin pemerintah.

Ia juga heran terhadap mereka yang mengaku miskin akibat Covid-19.

Padahal rumah mereka berstatus milik pribadi dan tak mempunyai tanggungan.

"Bahkan itu ada yang tiap hari cerita emas aja. Ada itu yang tiap bulan bawa beras dari kantor lurah kok tiba-tiba ngaku nggak diperhatikan," jelasnya seraya merasa aksi perekaman video tersebut merusak kredibilitasnya sebagai relawan.

Rencananya Dewi dan Kepling akan melaporkan aksi warga ini ke Polsek Siantar Timur dalam waktu dekat lantaran sudah meresahkan dirinya.

Lurah Siopat Hulu Sebut Manusia Banyak Khilaf

Lurah Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur Retti Saragih yang ditemui saatmembagikan sembago bantuan akibat Covid-19 di kelurahan menyampaikan ada 337 KK di wilayahnya yang menerima bantuan.

Menyoal adanya warga yang protes tak menerima bantuan ia juga mengetahuinya.

Namun Retti berdalih bahwa Kepling dan RT telah bekerja menyalurkan bantuan kepada warga yang sesuai kriteria penerima bantuan.

"Kurang tahu saya mereka gak terima. Kita salurkan sesuai kriteria yang ditetapkan pemerintah. Kita data manual," ujarnya seraya menambahkan penerima bantuan adalah bukan kalangan PNS atau pensiunan, dan bukan penerima bantuan lain.

Disinggung apakah seluruh warga penerima bantuan sembako adalah sosok yang tepat memenuhi kriteria, Retti mengaku sebagai manusia tentu ada khilaf.

"Semalam ada dua warga kami yang merasa tak layak menerima sembako, hari ini, Sabtu (25/4/2020) juga ada yang memulangkan. Namanya manusia tentu ada khilaf," katanya.

Ia mengaku akan memanggil kembali Kepling dan relawan guna memastikan warga yang belum menerima bantuan agar dapat dimasukkan ke daftar penerima bantuan lainnya yakni Kemensos RI.



sumber  : trib 




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.