Header Ads

Cerita Nenek Rogaya Kesulitan Terima Bansos: Capek Bolak-balik ke Kelurahan


LINTAS PUBLIK, Meski akan memasuki usia 80 tahun pada November mendatang, nenek dua cucu ini masih terlihat prima. Aktivitas di kediamannya yang sempit masih dijalani sendiri, termasuk naik turun tangga kayu setinggi sekitar 3 meter.

Nenek Rogaya tinggal bersama keponakannya di sebuah bangunan kecil di kawasan padat penduduk di Jalan Kramat Pulo, RT 11/003, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Nenek Rogaya tak berharap banyak dari bantuan pemerintah. 
Untuk menuju ke kediamannya mesti lewat gang sempit dan padat, juga menelusuri ke lorong di antara dua bangunan rumah warga. Rumah nenek Rogaya berada di sudut belakang.

Lorong tersebut berukuran 3 x 3 meter berlantai dua kayu. Ketika disambangi, nenek Jida sapa akrab Rogaya sedang berada di lantai dua dan bergegas menuruni tangga. “Eh ada tamu,” sapanya dengan suara yang masih jelas terdengar.

Berkebaya hijau dan bawahan kain batik, nenek Rogaya mengaku selama pandemi covid 19 berlangsung baru sekali menerima bansos dari pemerintah pusat melalui Kemensos.

Sementara bantuan dari pemerintah daerah (Pemda) sampai sekarang belum pernah diterima. Padahal KTP dan data lain sudah diserahkan , tapi belum juga sampai tuh bantuan sampai sekarang.

“Udah capek bolak-balik nanya sampai ke kelurahan, jawabannya macam macam, belum terdata lah, nggak masuk data dan macam-macam,” ucapnya.

Bantuan yang sangat diharapkan tak kunjung mendarat di rumahnya, nenek Jida akhirnya hanya pasrah. “Mestinya buat warga seperti saya, yang sudah puluhan tahun tinggal di sini dan sudah tua harusnya dapat perhatian. Tapi sudahlah, saya pasrah saja,” katanya dengan nada lirih.

PASRAH

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama pandemi, dirinya hanya mengandalkan gaji sang keponakan yang masih bekerja. “Kita irit-irit karena gaji saya hanya separuh,” papar Diah, keponakan yang ikut mendampingi.

Kondisi nenek Rogaya sendiri sudah sepuh, porsi makan pun terbatas alias tidak banyak seperti yang lain. “Paling dua kali makan dalam sehari, maklum udah tua. Lumayan bisa ngirit.”

Beruntung pula, cucu dan kerabat keluarga lain memberi perhatian dengan membantu sang nenek setiap bulan berupa sembako. “Kita pasrah saja. Bersyukur masih ada cucu dan saudara yang masih mau membantu,” tutur Nenek Rogaya.

sumber  : posk 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.