Header Ads

Suami Cuma Petentengan Terpaksa PIL Jadi Pilihan


LINTAS PUBLIK, Menyesal Rini (30), jadi istri Hendri (35). Sudah punya satu anak tapi kerjanya petentengan doang. Dia hanya mengandalkan gaji istrinya yang tak seberapa. Maka ketika ketemu cowok ideal bernama Joko (37), diam-diam dijadikan PIL-nya. Ketika skandal terkuak, justru dijadikan alasan untuk minta cerai.

ilustrasi

Suami itu bertanggungjawab cari nafkah buat keluarga, sedangkan istri mengasuh anak di rumah. Tapi ketika ketemu suami yang pemalas dan tidak punya inisiatip, justru terbalik-balik. Istrinya yang disuruh cari nafkah, sementara suami di rumah momong anak sambil petentang-petenteng tidak jelas. Coba, istri cap apa yang tak senep perutnya punya suami model begitu?

Di Surabaya lelaki model begitu salah satunya Hendri. Sejak 5 tahun lalu berumahtangga dengan Rini, sama sekali tak ada perubahan yang berarti. Jika ada perubahan hanyalah satu momongan sebagai hasil kerjasama nirlaba selama ini. Saat persalinan anak pertamannya pun, semua atas sponsor antar besan. Walhasil kerja Hendri hanya “nyetrom” doang!

Sejak pacaran dulu kerja Hendri memang tidak jelas. Tapi kala itu Rini bisa menerima dengan harapan nanti setelah punya istri dan ada anak akan muncul rasa tanggungjawabnya pada rumahangga. Ternyata meleset.  Ketika istri diterima kerja di pusat perbelanjaan, justru Hendri semakin males cari kerja. Kerjanya di rumah hanya tidur makan, malam nanti ditambah meniduri istri. Itu saja.

Pernah diberi modal oleh istri agar usaha buka agen pulsa. Tapi hanya sebulan modal habis karena duitnya malah dibuat jajan dan makan-makan bersama cewek lain.

Untung saja rumah masih nebeng ke orangtua, sehingga belum pernah memikirkan biaya rumahtinggal. Cuma Hendri ini menang muka badak, disindir mertua sebagai lelaki benalu, dia tetap santuy saja coy.

 Di pusat perbelanjaan Surabaya ini Rini kemudian kenal dengan Joko, lelaki pemasok makanan ke pusat perbelanjaan itu. Lama-lama jadi akrab dan Rini berani curhat tentang rumahtangganya. Gara-gara itu Joko jadi mulai berani mendekati Rini. Maksudnya, jika ada kemelut dalam rumahtangga Rini-Hendri, Joko siap mengambil alih pucuk pimpinan rumahtangga. Kudeta kecil-kecilan.

Dan karena Joko lebih menjanjikan, dia memberi lampu hijau atas masuknya agen penyalur makanan itu. Sejak itu resmi Rini menerima Joko sebagai PIL-nya. Dan Joko semakin pede, karena meski ada anak satu Rini siap bercerai dari Hendri jika situasi sudah memungkinkan.

Sejauh mana keduanya berpacaran tak diketahui jelas. Tapi keduanya memang tahu akan batas masing-masing. Maka jika jalan bareng paling hanya jajan di warung, lalu makan sepiring berdua. Tak ada niat untuk tidur berdua. Lagi pula tidur berdua juga percuma, karena di masa pandemic kan  harus jaga jarak dan pakai masker pula.

Tapi karena suka jajan berdua itulah sekali waktu kepergok oleh Hendri. Dia marah betul istrinya makan bareng bersama lelaki lain. Dia omeli Joko dia omeli pula istrinya. Tapi Rini tenang saja, justru Hendri gentian diancam. “Nggak usah ribut, kalau Mas Hendri nggak suka, ya sudah ceraikan saja saya!”

Sejak itu Hendri-Rini pisah ranjang, dan 3 bulan kemudian Hendri benar-benar menceraikan istrinya. Dia kembali ke rumah orangtuanya modal kolor doang. Anak ikut istri sesuai sesuai dengan amar putusan Pengadilan Agama bahwa hak asuh anak pada mantan istri. Dengan modal surat cerai itulah Rini mau mempesiapkan perkawinan kedua dengan Joko karena dia mau menerima apa adanya.

Joko sudah siap jadi “generasi penerus”?


sumber  : posk


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.