Header Ads

Alm.Lamian Saragih : Dari Sintua Marsius Saragih Sampai Ephorus GKPS ”Comite Na Ra Marpodah”


LINTAS PUBLIK, Cerita penginjilan yang dilakukan oleh almarhum Bibelvrow Lamian Saragih tidak terlepas dari pembinaan orang tuanya Sintua Marsius Saragih.

Menurut cacatan Pdt Bonar H Lumbantobing di halaman facebooknya, Sabtu (28/11/2020), bahwa  yang menjadi sintua pertama di GKPS Raya Usang adalah Sintua Marsius Saragih, tak lain adalah bapak dari Lamian Saragih.

BACA JUGA  Meninggal 101 Tahun, Ini Pesan Istri Ephorus HKBP Alm.Pdt.Justin Sihombing


Kegigihan pengabaran injil yang dilakukan Sintua Marsius Saragih mungkin saja sampai pada pengembalaan gereja-gereja GKPS di sekitaran Raya.

"Di tengah-tengah suasana penginjilan itu, yang disebut ‘Domma tongon mamungkah siang, i kehen i huluan in’, Lamian dibesarkan. Marsius, ayah Lamian, adalah Sintua pertama di Raya Usang.

Kemungkinan besar beliau turut terlibat dengan Kongsi Laita, yaitu gerakan Penginjilan oleh warga jemaat yang didirikan di Raya. Lamian menceritakan bahwa ayahnya, Sintua Marsius harus meninggalkan rumah selama berbulan-bulan untuk tugas Pekabaran Injil. 

Sintua Marsius mengerjakan tugas seorang Evangelis yang sering diutus ke jemaat-jemaat, khususnya ke sebuah daerah yang namanya Negeri Dolog."tulis Pdt Bonar H Lumbantobing kiprah bapak Lamaian Saragih istri alm. Pdt. Justin Sihombing (Ephorus HKBP) yang tutup usia 101 tahun pada  27 November 2020.

Inilah Tulisan lengkap Pdt Bonar H Lumbantobing, dari Dari Sintua Marsius Saragih Sampai Ephorus GKPS ”Comite Na Ra Marpodah” :

DARI MANA BIJBELVROUW LAMIAN boru SARAGIH?

(Isteri dari Almarhum Ephorus Pdt DR Justin Sihombing)

19 Juli 1919-27 November 2020

Ini hari kedua, Ompung-Boru, Bvr Lamian boru Saragih, disemayamkan di rumah beliau di Pematangsiantar. Beliau, perempuan Kristen pengukir sejarah dan pendoa syafaat bagi Gereja dan Bangsa, ternyata lahir dari suasana hidup pekabaran Injil:

Bijbelvrouw Lamian Saragih dilahirkan pada tanggal 19 Juli 1919 di Raya Usang, sebuah desa kecil di Simalungun-Atas. Saat ini Raya Usang merupakan salah satu Nagori yang ada di kecamatan Dolog Masagal, Kabupaten Simalungun. Pada masa kelahiran Lamian, Raya Usang menjadi bagian dari sebuah hamparan luas tanah datar dan berbukit. 

Di sekitarnya terdapat hutan dan ladang. Setiap rumah memiliki halaman yang luas. Rumah orangtua Lamian, yaitu Sintua Marsius Saragih-Sidauruk dan Ibu Dorianna boru Purba-Pakpak, terletak di lahan bukit, sehingga terlihat indah dan suasana damai. Setiap pagi matahari menyinarinya dengan hangat dan ketika terbenam, langit menguning di atasnya mengukir pemandangan yang sangat indah. 

Rumah itu sederhana, tetapi kesederhanaan itu justru membuat keindahannya menjadi istimewa. Bapak Saragih dan Ibu boru Purba menanami halaman dengan berbagai jenis tanaman sayur dan tanaman obat. 

BACA JUGA  Ephorus HKBP Pdt. Justin Sihombing Pernah Menolak Mobil, Ini Pesan Istrinya di Umur 100 tahun

Ketiga Putri Biv. Lamian Boru saragih.

Tanaman itu tertata bersih dan rapi karena disiangi secara berkala. Ternak babi dan ayam dipelihara juga, tetapi kandangnya terpisah di ladang yang berjarak 800 meter dari rumah. Sebab itu, halaman yang ditanamani sayur dan tanaman obat itu tidak terganggu. 

Air minum diperoleh dari mata air yang terletak agak jauh dari rumah. Belakangan, halaman rumah itu ditanami dengan jeruk manis, yang hingga kini bebas dinikmati oleh anak-anak dan cucu-cucunya. Hal ini memperlihatkan bahwa keluarga ini berusaha mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pertanian subsiten mereka. 

Tanggal kelahiran Sintua Marsius Saragih tidak diketahui dengan pasti. Jika beliau berusia sekitar 20 tahun ketika menikah, dan Lamian lahir sebagai anak pertama di tahun 1919, maka dapat diperkirakan bahwa Sintua Marsius lahir sekitar tahun 1897-1898. 

Itu artinya, pada saat Marsius lahir, keluarganya masih belum Kristen. Sebab, Injil baru mulai menyentuh Tanah Simalungun pada tahun 1903. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1904, ketika Marsius kira-kira berusia 7 tahun, Missionaris Simon mengutus Guru Zending Gidion Gultom ke Raya Usang dan menetap di sana meskipun pada saat itu belum ada penduduk Raya Usang yang sudah dibaptis. 

Namun desa ini terbuka untuk para pekabar Injil sehingga sekolah pun sudah diizinkan untuk dibuka pada tanggal 2 September 1905 di Raya Usang. 

Perlahan Injil semakin disambut oleh penduduk Simalungun. Baptisan pertama di Simalungun dilayankan pada tanggal 19 September 1909 di Purbasaribu, kepada seorang perempuan oleh Missioner Guillaume. 

BACA JUGA  Terbongkar, Ternyata Pdt.DR.Justin Sihombing, Pengusul Nama Universitas HKBP Nommensen, Ini Faktanya

Para Pendeta dan jemaat HKBP mendoakan Alm. Lamian Saragih di rumah duka.

Di desa Pematang Raya yang tidak jauh dari Raya Usang, 24 orang dibaptis pada tanggal 24 Desember 1909 oleh Missionaris August Theis. Tidak diketahui kapan pastinya Marsius dibaptis. Tetapi tentunya beliau memperoleh baptisan dewasa. Kemungkinan besar, sebelum Lamian lahir, baptisan pertama sudah dilangsungkan di Raya Usang. 

Raya Usang seolah dipersiapkan bagi Lamian, sebelum Lamian lahir, agar Lamian bisa menjadi apa yang diperolehnya kemudian, yaitu menjadi perempuan terpelajar dan menjadi Pekabar Injil. 

Kemampuan untuk mencapai itu sudah seolah dipersiapkan di Raya Usang sebelum Lamian lahir. Di Raya Usanglah untuk pertama sekali Sekolah Zending dimasuki oleh anak-anak perempuan. 

Di desa-desa lain, di mana Sekolah Zending sudah dibuka, anak-anak perempuan tidak pernah bisa atau tidak pernah diijinkan untuk masuk sekolah. Untuk ini, seorang Guru yang sangat hebat, Guru Godang pertama Simalungun, 

Guru Jaulung Wismar Saragih berhasil memulai dan membuka sekolah yang terbuka bagi anak-anak perempuan di Raya Usang. Inilah Sekolah Zending pertama yang mempunyai murid-murid perempuan.

Terjadilah perkembangan yang cepat di Simalungun di mana perempuan boleh masuk sekolah. Itu dimulai di desa Raya Usang tempat kelahiran Lamian. 

Lamian sendiri dibaptis sesudah orangtuanya Kristen, tetapi tidak diketahui lagi kapan tanggal baptisnya. Maka tidak dapat lagi ditelusuri siapakah Pendeta yang melayani di sana saat itu. 

Biasanya, Pendeta-pendeta pada masa-masa awal Kekristenan sangat memengaruhi kerohanian warga jemaat, bahkan pada anak-anak juga. 

Lamian masuk sekolah Zending di Raya Usang tahun 1927 pada usia 8 tahun. Sekolah itu mempunyai kelas sampai kelas 3. Ia tamat pada tahun 1930, di umurnya yang ke-11. Selama masa kecilnya hingga selesainya kelas 3, hidup Kekristenan sedang berkembang di Raya Usang dan sekitarnya, yang dilayani oleh para Guru Zending dan Pendeta. 

Salah satu pendeta bagi jemaat di mana Lamian hidup adalah Guru Wismar kembali, yaitu Guru yang telah memperjuangkan supaya perempuan bisa masuk sekolah, yang kemudian menjadi Pdt Jaulung Wismar Saragih.

Pdt. J. W. Saragih adalah pendeta pertama orang Simalungun, bahkan kemudian akan menjadi Wakil Ephorus pertama HKBP-Simalungun. 

Sesudah menjadi Pendeta, ia ditempatkan untuk jemaat Raya dan sekitarnya. Dalam laporan tahunannya kemudian, Pdt J W Saragih menuliskan bahwa Jemaat-jemaat yang termasuk ke dalam Jemaat Raya adalah Pematang Raya, Raya Tongah, Raya Usang, Dali Raya, Bulu Raya, Janji Mauli, Kariahan, Amborokan, Huta Raya, Urung Pane, Dolog Saribu, Sinondang, Bah Tonang. 

Selain itu, Pembantu Guru Zending juga ditempatkan di beberapa jemaat, yakni Sibirah Raya, Nagori Dolog, Bangun Raya dan Merek. Berarti Pdt J W Saragih menjadi pendeta untuk Raya Usang di mana Lamian hidup. Empat tahun sesudah Pdt J W Saragih di Raya, Lamian lahir di Raya Usang.

Bila jumlah jemaat yang termasuk ke dalam Jemaat Raya dilihat sejak tahun 1903, maka terjadi pertumbuhan jemaat yang cukup cepat. Pdt. J. W. Saragih melaporkan juga pada laporan tahunannya bahwa pada tahun 1928, (ketika Lamian berusia 9 tahun) terdapat 920 orang Kristen. 

BACA JUGA  Berumur 97 Tahun, Ny.Pdt. DR. Justin Sihombing Ephorus HKBP Makin Sehat

Pdt. Justinos Nainggolan, MTh (paling kiri) cucu Alm.Lamian Saragih bersama Putri dan keluarga.

Di antara Maret 1928-Maret 1929 gereja kembali membaptis 198 orang sehingga total warga jemaat menjadi 1118 orang. Lamian menjalani katekhisasi di jemaat ini dan kemudian sidi  memperoleh ayat sidi yang tertulis pada Lukas 22:32: “ Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.”  

Secara khusus jemaat Raya Usang di mana Lamian hidup, dilaporkan oleh Pdt. J. W. Saragih sebagai jemaat yang sangat bersemangat di dalam hidup Kekristenan. 

Jemaat yang ikut ambil bagian dalam Perjamuan Kudus, yang diadakan dua kali setahun, semakin banyak. Murid-murid di sekolah juga banyak. 

Kaum Ibu makin banyak ikut Penelaahan Alkitab, kaum bapak makin rajin ke perkumpulan. Kongsi manarihon dari kalangan pemuda hidup terus, dan kelompok Paduan Suara (Zangvereeniging) semakin berkembang. 

Jemaat mengumpulkan dana untuk membangun gedung gereja dan gedung sekolah. (J. R. Hutauruk, 2017, 473) Kongsi Pangapoh (penghiburan) di Raya Usang dan jemaat lain sangat aktif. Walaupun kehidupan ekonomik Raya Usang sangat sederhana, tetapi rata-rata satu orang dapat menyumbang f 2 (2 Florint, uang Belanda saat itu) untuk Zending Batak. 

Sebagaimana diketahui, Lembaga Pekabaran Injil yang didirikan oleh jemaat pribumi yang disebut dengan Pardonganon Mission Batak (PMB) didukung oleh seluruh jemaat tanpa bantuan sepeser pun dari luar negeri. 

Ketika keuangan RMG semakin menurun akibat Perang Dunia I, PMB dibubarkan dan dimasukkan menjadi bagian dari Gereja Missi dan diberi nama Zending Batak. 

Tetapi jemaat tetap bersungguh-sungguh mendukung lembaga penginjilan ini melalui sumbangan-sumbangan berkala mau pun pesta-pesta Zending. 

Jemaat Raya Usang yang masih muda ini pun turut dalam semangat Penginjilan ini dan rela menyumbang. 

Pada hal sejak tahun 1929 – 1933 terjadi depresi ekonomi di seluruh dunia. Ini mempengaruhi Hindia Belanda terutama daerah-daerah yang menghasilkan produk-produk eksport. Itu berarti perkebunan di Sumatera Timur terpengaruh. Maka perekonomian seluruh daerah Simalungun pun terkena dampaknya. 

Pdt. J. W. Saragih menyebutkan bahwa ‘masa maleset’ (malaise, depressi ekonomi) tersebut tidak mempengaruhi kesediaan warga jemaat menyumbang. Selain persembahan untuk Zending Batak rata-rata f 0,25 per orang, terjadi juga peningkatan ucapan syukur pernikahan sejumlah f 3. Jadi, rata-rata satu orang menyumbang sejumlah f  0,96 pada tahun 1928 dan pada tahun 1929 meningkat menjadi f 1,10. 

Sumbangan untuk pembangunan gedung gereja masuk terus dalam bentuk papan, batu, pasir dan perataan lahan gereja, hingga akhirnya selesai dibangun 4 Januari 1934. Jemaat Raya Usang terlibat juga dengan gerakan penginjilan di sekitar Raya. 

Melihat Pemberitaan Injil yang belum diberitakan dalam bahasa Simalungun, maka muncullah gerakan Penginjilan di Raya, yang ingin melestarikan dan memberdayakan bahasa Simalungun dalam rangka Pekabaran Injil. 

BACA JUGA Alumni STM HKBP Bagikan Tempat Sampah, Ini Kata Masyarakat Wisata Danau Toba

Alm. Lamian Saragih meninggal pada, Jumat 27 November 2020 tutup usia 101 Tahun

Gerakan ini disebut dengan ”Comite Na Ra Marpodah”. Dua orang pengurusnya berasal dari Raya Usang, yakni Djotti Saragih dan Guru Zending Djainoes Saragih. Keduanya menjabat sebagai Comisaris. Pdt. J. W. Saragih menyimpulkan seluruh semangat hidup penginjilan ini dengan Nyanyian: 

Andohar ma apui ugara, parholong atei na sintong. 

Odas ho ma ibotoh gaja ham Jesus, Raja na sintong! 

Domma tongon mamungkah siang, i kehen i huluan in. 

Jajat homa dong tong na hurang, ai sol lihar do ganup in (Haleluya 140:1) 475.

Di tengah-tengah suasana penginjilan itu, yang disebut ‘Domma tongon mamungkah siang, i kehen i huluan in’, Lamian dibesarkan. Marsius, ayah Lamian, adalah Sintua pertama di Raya Usang.

Kemungkinan besar beliau turut terlibat dengan Kongsi Laita, yaitu gerakan Penginjilan oleh warga jemaat yang didirikan di Raya. Lamian menceritakan bahwa ayahnya, Sintua Marsius harus meninggalkan rumah selama berbulan-bulan untuk tugas Pekabaran Injil. 

Sintua Marsius mengerjakan tugas seorang Evangelis yang sering diutus ke jemaat-jemaat, khususnya ke sebuah daerah yang namanya Negeri Dolog. 

Orang-orang di sana hidup dengan berladang menanam padi dan kopi, kebanyakan orang Simalungun  dari marga Saragih dan Damanik. 

Sintua Marsius meninggalkan keluarganya untuk Pemberitaan Injil berkeliling dan hidup dengan biaya sendiri. 

Tetapi keluarganya tidak pernah kekurangan karena Ibu boru Purba-Pakpak rajin bekerja dan dapat menghidupi seluruh keluarga dari hasil ladang dan ternak. 

Kemudian Lamian melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Belanda di Pematangsiantar hingga lulus tahun 1934 pada usia 15 tahun. Hidup di dalam lingkungan yang sangat kuat dengan semangat penginjilan membuat semangat itu tertanam dalam diri Lamian, sesuai dengan ayat sidinya dari Lukas 22:32a “. Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.“ Ini melengkapi ingatan dia akan nasihat ayahnya, Sintua Marsius yang selalu mengatakan “Hidup ini harus diisi dengan kerja keras dan jangan pernah lupa berdoa dan beribadah!

Setelah selesai sekolah dan kembali ke kampung, Lamian bekerja membantu ibunya selama 4 tahun. Pada masa itu ia sudah masuk ke dalam persekutuan muda-mudi Gereja. 

Dalam suatu kebaktian, hati Lamian tersentuh ketika seorang Suster Jerman memimpin nyanyian dan khotbah. 

Kemudian Lamian mengetahui nama Suster itu adalah Elfriede Harder. Perlahan di hatinya tumbuh sebuah semangat untuk menjadi seperti Suster tersebut, pada hal itu artinya, akan masuk ke dalam gerakan penginjilan internasional. 

Gerakan itulah yang kelak membentuk karakter Lamian dan menjadi ciri diri dan kepribadiannya, bahkan arah hidup dan penginjilannya hingga dia berumur 101 tahun.

Informasi yang diterima redaksi lintaspublik.com, Senin (30/11/2020) Lamian Saragih dimakamkan di Pearaja Tarutung berdekatan dengan suaminya  Pdt.Dr. Justin Sihombing/Hutasoit yang mengabdi sebagai Ephorus HKBP tahun 1942 sampai tahun 1962.

BACA JUGA  Sekolah Minggu HKBP Mahanaim Jiarah ke Makam Nommensen dan Wisata ke Salib Kasih, Ini Fotonya


Penulis   : tagor
Editor     : tagor



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.