Header Ads


Anak Sulung Cenderung Jadi Pemimpin: Mitos atau Fakta?


LINTAS PUBLIK, Apakah kakak atau adik Anda - atau status Anda sebagai anak tunggal - membentuk keterampilan yang Anda butuhkan di tempat kerja?

Glen Allsopp pertama kali mendapat ide cemerlang untuk bisnisnya saat ia masih tinggal bersama keluarganya di Newcastle, Inggris, kala ia berusia 16 tahun.

Keberhasilannya yang cepat membuatnya pindah dari Inggris ke Cape Town, Afrika Selatan, sebelum ia menginjak umur dewasa.

Tapi dari mana datangnya semangat wirausaha yang begitu mencolok?

BACA JUGA  Akan Ada Terang, Pelayat Minta Anak Kandung Almarhum Asner Silalahi Teruskan Perjuangan

Sondi Pittor Manahan Silalah, ST (anak Sulung) dan kedua Adiknya dr. May Irtia Silalahi dan Uzia Manogari Silalahi, SH saat pemakaman orang tua mereka ASner Silalahi walikota terpilih Pilkada Siantar yang meninggal Rabu, 13 Januari 2021.

Gen, pola asuh, dan pendidikan, semuanya mungkin berperan, tetapi bagaimana keluarga Anda - terutama kakak atau adik Anda - membentuk Anda?

Allsopp, pendiri Detailed.com (sebuah perusahaan konsultasi yang menangani klien-klien besar), adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dan ia mengatakan keluarganya selalu memberinya kebebasan untuk mengambil risiko.

"Saya melihat orang tua saya lebih terbuka dan mengizinkan anak-anak mereka melakukan hal-hal yang berbeda ketika kami semua meninggalkan sekolah dan masuk ke pasar kerja," katanya.

"Saya diberi kebebasan total untuk keluar dari pekerjaan paruh waktu, meninggalkan perguruan tinggi, dan pada dasarnya memulai kehidupan baru di benua yang berbeda."

Pemikiran bahwa anak bungsu lebih bersifat petualangan adalah salah satu dari beberapa teori yang berputar-putar di sekitar literatur penelitian tentang bagaimana posisi kita dalam keluarga mempengaruhi karier kita.

Pemikiran yang bahkan lebih populer - fakta yang hampir diterima begitu saja - adalah bahwa anak-anak sulung lebih cenderung menjadi pemimpin.

Namun bukti ilmiah untuk ini paling lemah - beberapa ahli bahkan menggambarkan pengaruh urutan kelahiran pada kepribadian sebagai "teori zombie", yaitu teori yang menolak untuk mati meskipun tidak berdasar.

Tetapi itu tidak berarti hubungan dengan kakak atau adik kita (atau ketika kita tidak punya kakak atau adik) tidak berdampak apapun pada karier kita.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa alih-alih terkait kesenjangan usia antara saudara kandung, keseimbangan anak laki-laki dan perempuan, dan kualitas hubungan saudara kandung lebih penting.

Mereka yang bertengkar tentang siapa yang duduk di bangku depan mobil atau yang boleh tidur lebih malam dapat menjadi hal yang mempengaruhi anak.

Pertempuran dan diplomasi antara saudara kandung benar-benar dapat membantu membekali kita dengan keterampilan pribadi dan atribut yang berguna dalam dunia pekerjaan.

Angela Merkel yang menjadi kanselir Jerman sejak 2005 adalah anak sulung.

Terlahir untuk memimpin?

Urutan kelahiran adalah topik yang selalu hangat diperbincangkan.

Internet dipenuhi dengan artikel dramatis yang mengklaim anak sulung lebih cenderung menjadi pemimpin.

Ada banyak dukungan anekdotal untuk gagasan itu : Para pemimpin Eropa Angela Merkel dan Emmanuel Macron, misalnya, keduanya adalah anak sulung, seperti juga mantan Presiden AS: Bill Clinton, George W Bush dan Barack Obama (atau yang dibesarkan sebagai anak tunggal - Obama memiliki saudara tiri yang lebih tua yang tidak tinggal bersamanya).

Dalam dunia bisnis, Sheryl Sandberg, Marissa Mayer, Jeff Bezos, Elon Musk dan Richard Branson, sejumlag CEO terkenal, semuanya adalah anak sulung.

Namun beberapa penelitian telah membantah anggapan bahwa urutan kelahiran membentuk kepribadian kita.

Mereka menganalisis apakah, misalnya, seseorang memang lebih rajin dan dominan.

Pada tahun 2015, dua penelitian tidak menemukan hubungan yang bermakna antara urutan kelahiran dan kepribadian seseorang.

Rodica Damian dan Brent Roberts dari University of Illinois di Urbana-Champaign menganalisis sifat khas, IQ, dan urutan kelahiran dari hampir 400.000 siswa sekolah menengah AS.

Di sisi lain, Julia Rohrer dari University Leipzig dan rekan-rekannya menganalisis data IQ, kepribadian, dan urutan kelahiran dari hampir 20.000 orang di Inggris, AS, dan Jerman.

Dalam kedua studi itu disimpulkan memang ada beberapa korelasi kecil antara urutan kelahiran dan sifat, tetapi itu sangat kecil relevansinya.

Gagasan populer lain yang terkait dengan urutan kelahiran adalah bahwa bayi yang dilahirkan terakhir, seperti Allsopp, lebih cenderung berani mengambil risiko - namun klaim khusus ini juga dibantah Tomás Lejarraga dari University of the Balearic Islands, bersama dengan koleganya, yang tidak menemukan hubungan bermakna antara sifat petualang dan urutan kelahiran.

Menyukai bantuan dari saudara

Jadi, urutan kelahiran mungkin tidak begitu berpengaruh.

Namun, melihat sepasang saudara kandung bermain dan bertarung, berdebat dan akrab lagi, rasanya luar biasa untuk berpikir bahwa pengalaman ini tidak akan meninggalkan jejak.

Satu hal yang perlu diingat di sini adalah urutan kelahiran hanyalah salah satu aspek dari dinamika saudara kandung.

Jika Anda anak tunggal tidak berarti bahwa pengalaman pribadi Anda dalam hierarki keluarga tidak membentuk Anda.

Mungkin sifat khusus dan peran Anda sendiri dalam keluarga yang penting.

Tetapi sekali lagi diperlukan kehati-hatian - seperti yang dikatakan Rohrer, jika Anda menemukan hubungan antara hubungan saudara dan perilaku di kemudian hari, ada penjelasan yang lebih sederhana yakni stabilitas kepribadian.

"Seseorang yang merawat saudaranya itu mungkin karena mereka orang yang sangat peduli, dan juga bertindak peduli di kemudian hari di lingkungan lain; tanpa efek kausal yang sebenarnya dari hubungan antara saudara," katanya.

Selain itu, ada beberapa bukti bahwa hubungan antara saudara dapat memiliki konsekuensi psikologis yang luas.

Di atas segalanya, kualitas dinamika antara saudara tampaknya penting - saudara kandung dapat menyebabkan atau melindungi saudaranya dari masalah kesehatan mental, tergantung pada apakah ada kehangatan atau konflik di antara mereka.

Jenis kelamin saudara kandung kita mungkin juga membuat perbedaan dalam hal-hal yang penting bagi karier kita nanti, dengan satu penelitian menemukan bahwa pria dengan kakak perempuan, menjadi kurang kompetitif - walaupun sekali lagi penting untuk tidak melebih-lebihkan ukuran praktis dari efek ini.

Faktor spesifik lain yang mungkin lebih relevan daripada urutan kelahiran adalah apakah Anda memiliki saudara yang usianya dekat dengan Anda.

Sebuah penelitian baru-baru ini terhadap lebih dari 4.000 orang Inggris menemukan bahwa orang-orang yang usianya lebih dekat dengan saudara mereka, cenderung lebih terbuka dan tidak mudah tertekan - mungkin karena mereka tidak harus bersaing keras untuk menapat perhatian orang tua dan mereka bisa bermain dan belajar bersama.

Penelitian sebelumnya menemukan saudara kandung yang terlibat lebih banyak dalam 'bermain pura-pura' (pretend play) juga cenderung memiliki pemahaman yang lebih dewasa tentang emosi orang lain.

Perlu juga diingat bahwa hubungan antara saudara dipengaruhi keadaan keluarga di mana mereka tinggal.

Kekuatan anak tunggal

Menjadi tangguh secara emosional, memiliki empati dan keterampilan sosial adalah keuntungan dalam banyak karier (seperti menjadi lebih ekstrovert untuk profesi di bidang pemasaran, akademis, atau jurnalisme).

Anak sulung dianggap pantas menjadi pemimpin, meski hal itu tidak didukung hasil penelitian.

Dalam konteks ini, penelitian menunjukkan memiliki saudara kandung akarab dapat menjadi tempat latihan yang sempurna.

Jadi, bagaimana dengan anak tunggal seperti saya atau Brendan Hufford, seorang direktur SEO di agensi desain Clique Studios?

Hufford mengatakan pengalaman menjadi anak tunggal sangat memengaruhi dia.

"Saya perhatikan bahwa saya mencari banyak validasi dari luar," katanya.

"Tanpa saudara kandung untuk memvalidasi pengalaman sehari-hari saat tumbuh dewasa, saya mencari orang lain untuk memberikan masukan pada pekerjaan dan kegiatan sehari-hari saya."

Dia mengatakan bahwa dalam karier profesionalnya, ini benar-benar membantunya membangun hubungan dengan rekan kerja lebih cepat.

"Namun, ketika saya pindah ke posisi kepemimpinan, jumlah rekan berbagi saya berkurang, yang mengarah ke ambivalensi jangka panjang mengenai kemampuan dan efektivitas saya sebagai seorang pemimpin."

Dalam hal literatur penelitian di bidang ini, beberapa di antaranya agak menggelisahkan.

Misalnya sebuah penelitian yang membandingkan ciri-ciri kepribadian dan kecenderungan perilaku orang yang lahir di China tepat sebelum atau setelah kebijakan satu-anak.

Mereka menemukan bahwa orang yang lahir setelah kebijakan itu cenderung "kurang bisa dipercaya, lebih senang menghindari risiko, kurang kompetitif, lebih pesimistis dan kurang teliti".

Bukan profil yang bagus untuk menavigasi politik kantor di kemudian hari.

Obama dibesarkan layaknya anak sulung.

"Saya harus bekerja untuk belajar mendengarkan dan memberi waktu kepada rekan tim saya untuk memproses sesuatu," kata Hufford.

"Sebagai seseorang yang terus bertanya secara alami, saya sudah memikirkan konsep-konsep sebelum mempresentasikannya, dan sebagai anak tunggal, saya tidak pernah memiliki minat bersaing selain meyakinkan orang tua saya tentang sesuatu. Kompromi dan komunikasi mimim, hanya pada apa yang paling memengaruhi saya. 

Studi baru-baru ini mengungkapkan hasil terkait dalam hal konsekuensi sosial yang mungkin terjadi karena menjadi anak tunggal.

Peserta anak tunggal mendapat skor lebih rendah untuk sifat yang membuat mereka mudah "cocok" dengan orang lain (mereka kurang ramah dan percaya pada orang lain).

Namun, ada hikmahnya: penelitian menjukan anak tunggal tampil lebih baik dalam ujian terkait kreativitas mereka.

Peneliti percaya hal itu karena mereka menerima perhatian yang lebih besar dari orang tua mereka dan / atau fakta bahwa orang tua mereka mengharapkan lebih dari mereka.

(Saya ingin menambahkan bahwa mungkin anak tunggal mendapat manfaat dari banyaknya waktu yang mereka habiskan sendiri untuk mengasah imajinasi mereka.)

Hasil terakhir itu tentatif untuk saat ini.

Tetapi itu menunjukkan bahwa, sementara saya (dan anak-anak tunggal lain) mungkin bertanya-tanya seperti apa rasanya memiliki saudara lelaki atau perempuan untuk diajak mengobrol dan bermain, mungkin kesunyian yang saya nikmati di rumah membantu meletakkan dasar untuk menjadi seorang penulis.

Bagaimanapun, apa pun pengalaman keluarga kita, ada banyak ceruk pekerjaan yang mungkin bisa kita kembangkan.


sumber   : bbc 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.