Header Ads


Kera di Lintas Parapat Berpotensi Tingkatkan Wisata Danau Toba


LINTAS PUBLIK, Keberadaan kera di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli di wilayah Kabupaten Simalungun semakin diminati para turis dalam dan luar negeri. 

Populasinya yang terus bertambah, sehingga primata ini mudah dijumpai, khususnya di pinggiran lintas Parapat menjadi daya tarik tersendiri. 

Tiga ekor kera di pinggiran lintas Parapat, Aek Nauli, Kabupaten Simalungun.

Tidak saja bagi mereka yang meluangkan waktu secara khusus untuk berdarmawisata ke Parapat, Danau Toba, namun juga para pelintas di rute jalan nasional itu. 

Meski pun hanya untuk hitungan detik, paling lama menit. Hanya sekadar memberi pakan berupa kacang atau pisang dan cemilan lainnya. 

Melihat primata itu secara sigap menangkap, mengupas dan mengunyah dengan membesarkan mata, memberi kesenangan diri bagi pengunjung. 

Harapan pengunjung, bisa berlama-lama berinteraksi dengan kawanan primata tersebut, menyaksikan dan mengabadikan gerak bebas sebebas-bebasnya melompat dari dahan ke dahan, induk yang menyusui anaknya. 

Pemerintah hendaknya mengkaji situasi itu menjadi peluang untuk meningkatkan kepariwisataan Danau Toba, Sumatera Utara sebagai destinasi super prioritas. 

Misalnya, dengan langkah mengkhususkan ruas jalan di sekitaran kawanan primata berkumpul hanya untuk tujuan wisata, dengan membuat jalur baru untuk kepentingan umum. 

Banyaknya kera yang tewas terlindas kendaraan yang lalulalang dan adanya lokasi konservasi gajah di kawasan hutan  Aek Nauli, bisa menjadi pertimbangan pendukung kajian. 

Kasie Sarana dan Prasarana KHDTK Aek Nauli, Dimpu Jekson Panjaitan, Jumat (19/2/2021), menyebutkan, kawanan primata yang ada di KHDTK Aek Nauli itu jenis Siamang Sumatera, kera ekor panjang dan beruk. 

Pihaknya selaku pengelola kawanan primata, menyiapkan lokasi khusus untuk wisata ilmiah kawanan kera berjarak kira-kira 500 meter dari jalan umum. 

Tingkat kunjungan semakin bertambah, namun seiring mewabahnya COVID-19 dan masa pandemi, menurun drastis, dari 500-an orang ke angka 50.

Penurunan kunjungan dan berkembangnya populasi primata berdampak pada ketersediaan pangan, makanya kera-kera "mencari" makan di pinggiran jalan. 

Beberapa upaya telah dilakukan seperti pemanfaatan lahan dengan menanam pohon pakan primata, tetapi tetap saja tidak mencukupi. 


sumber   : ant 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.